Blog Archives

SHADOW PUPPETS FROM INDIA

INTRODUCTION

Shadow puppets have an interesting genesis. As one of the oldest art forms of India, they are derived from the visual art performances like the Chitra Katha (scroll paintings) often the south India, the Jadano Pat (rolled painting) of Bengal, the Chitrakathi (single paintings) of Maharashtra, Yampat (scroll paintings) of Bihar and the Phad (panel painting) of Rajasthan. These puppets, made with leather, are treasured in much folklore and mentioned in the Puranas and the Jatakas. It would appear that the shadow puppets, as a form of theatre, evolved from the visual dramatisation given to cut-out figures.

Ravana, Ravanachhaya
Read the rest of this entry

KONSEP KEPEMIMPINAN SEMAR DALAM WAYANG PURWA DITINJAU DARI FILSAFAT POLITIK

PENDAHULUAN

Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan kebudayaannya. Kebudayaan yang timbul dan berkembang dalam setiap suku memiliki keunikan dan kekhasan yang berbeda-beda, salah satunya adalah kebudayaan Jawa. Kebudayaan Jawa dalam hal ini Jawa Tengah mempunyai ragam kebudayaan, salah satunya adalah wayang. Bagi masyarakat Jawa pagelaran wayang yang hanya dipentaskan pada hari-hari tertentu seperti hari perayaan keagamaan dan acara-acara slametan (upacara yang ditandai dengan sajian bermacam-macam makanan yang ditentukan menurut kebudayaan Jawa), dan untuk merayakan peristiwa penting, misalnya kelahiran, sunatan, perkawinan itu, tidak hanya sebagai hiburan akan tetapi pada perkembangannya, cerita-cerita atau lakon yang dipentaskan disesuaikan dengan kondisi dan keadaan yang sedang dialami oleh masyarakat. Bahkan sering kali pementasan wayang ini menyindir bahkan mengkritik para tokoh masyarakat, politikus, dan pemimpin negara yang perilakunya dianggap ‘menyimpang’ dari harapan masyarakatnya. Read the rest of this entry

Wayang Golek

Wayang golek adalah bentuk teater rakyat yang sangat populer. Orang sering menghubungkan kata “wayang” dengan “bayang” karena dilihat dari pertunjukan wayang kulit yang memakai layar, dimana muncul bayangan-bayangan.
Di Jawa Barat, wayang ada yang menggunakan boneka (dari kulit/wayang kulit atau kayu/wayang golek) dan ada yang dimainkan oleh manusia (wayang orang).
Berkenaan dengan wayang golek, ada dua macam wayang golek, yakni wayang golek papak (cepak) dan wayang golek purwa yang ada di daerah Sunda. Semua wayang, kecuali wayang wong, dimainkan oleh dalang sebagai pemimpin pertunjukan yang sekaligus menyanyikan suluk, menyuarakan antawacana, mengatur gamelan, mengatur lagu dan lain-lain.

Wayang golek biasanya memiliki lakon-lakon, baik galur maupun carangan yang bersumber dari cerita besar Ramayana dan Mahabarata dengan mempergunakan bahasa Sunda disertai iringan gamelan Sunda (salendro), yang terdiri atas dua buah saron, sebuah peking, sebuah selentem, seperangkat bonang, seperangkat bonang rincik, seperangkat kenong, sepasang goong (kempul dan goong) dan ditambah dengan seperangkat kendang (sebuah kendang indung dan tiga buah kulanter), gambang serta rebab.

Sejak 1920-an, pertunjukan wayang golek selalu diiringi oleh pesinden. Popularitas pesinden pada masa-masa itu sangat tinggi, sehingga mengalahkan popularitas dalang wayang golek itu sendiri, terutama ketika zamannya Upit Sarimanah dan Titim Fatimah sekitar tahun 1960-an. Lakon yang biasa dipertunjukkan dalam wayang golek adalah lakon karangan. Hanya kadang-kadang saja dipertunjukkan lakon galur. Hal ini seakan menjadi ukuran kepandaian para dalang menciptakan lakon carangan yang bagus dan menarik. Beberapa dalang wayang golek yang terkenal diantaranya Tarkim, R.U. Partasuanda, Abeng Sunarya, Entah Tirayana, Apek, Asep Sunandar Sunarya, Cecep Supriadi dan lain-lain.

Pola pengadegan wayang golek adalah sebagai berikut :

  1. Tatalu, dalang dan pesinden naik panggung, gending jejer/kawit, murwa, nyandra, suluk/kakawen, dan biantara ;
  2. Babak Unjal, Paseban dan bebegalan ;
  3. Nagara sejen ;
  4. Patepah ;
  5. Perang gagal ;
  6. Panakawan/goro-goro ;
  7. Perang Kembang ; Perang raket ; dan
  8. Tutug.

Salah satu fungsi wayang di masyarakat adalah ngaruwat (ritus inisiasi), yaitu membersihkan yang diruwat dari kecelakaan (marabahaya).

Beberapa orang yang diruwat (sukerta), antara lain:

  • Wunggal (anak tunggal);
  • Nanggung Bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal);
  • Suramba (empat orang putra);
  • Surambi (empat orang putri);
  • Pandawa (lima putra);
  • Pandawi (lima putri);
  • Talaga Tanggal Kausak (seorang putra dihapit putri);
  • Samudra Hapit Sindang (seorang putri dihapit dua orang putra) dsb.
Wayang golek sebagai seni pertunjukan rakyat memiliki fungsi yang relevan dengan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun materialnya. Hal demikian dapat kita lihat dari beberapa kegiatan di masyarakat, misalnya ketika ada perayaan, baik hajatan (pesta kenduri) dalam rangka khitanan, pernikahan dan lain-lain, adakalanya diiringi dengan pertunjukan wayang golek. Secara spiritual masyarakat mengadakan ruwatan guna menolak bala, baik secara komunal maupun individual dengan mempergunakan pertunjukan wayang golek.
Sumber

Media penyebaran Islam

Menurut dugaan, sebagaimana wayang kulit di daerah Jawa, wayang golek digunakan oleh para wali untuk menyebarkan Islam di Tanah Pasundan. Karena ajaran Hindu sudah cukup akrab di masyarakat Sunda kala itu, cerita Mahabrata dan Ramayana dari Tanah Hindu dimodifikasi untuk mengajarkan Ketauhidan. Misalkan, dalam cerita Mahabharata para dewa punya wewenang yang sangat absolut, sebagai penentu nasib dan takdir yang tidak bisa disanggah maka para wali membuat objek baru yang posisinya lebih kuat yaitu lewat tokoh Semar yang pada akhirnya Semar tersebut turun ke bumi -yang karena kesalahannya- untuk mendampingi setiap kejadian dalam babak Bharata Yuddha baik sebagai penengah atau sebagai eksekutor tokoh yang tidak bisa diajak ke dalam kebaikan.

Wayang Golek Sunda
Sejarah Singkat

Di Jawa Barat, tempat berkembangnya wayang pertama kali adalah Cirebon, yaitu pada masa Sunan Gunung Jati (abad ke-15). Jenis wayang yang pertama kali dikenal adalah jenis wayang kulit. Sementara wayang golek mulai dikenal di Cirebon pada awal abad ke-16 dan dikenal dengan nama wayang golek papak atau cepak. Dalam perkembangannya, kita lebih mengenal wayang golek purwa, yaitu yang berlatar belakang cerita Ramayana dan Mahabharata.

Kelahiran golek berasal dari ide Dalem Bupati Bandung (Karang Anyar) yang menugaskan Ki Darman, juru wayang kulit asal Tegal yang tinggal di Cibiru, untuk membuat bentuk golek purwa. Awalnya wayang kayu ini masih dipengaruhi bentuk wayang kulit, yaitu gepeng atau dwimatra. Pada perkembangan selanjutnya, tercipta bentuk golek yang semakin membulat atau trimatra seperti yang biasa kita lihat sekarang. Kemudian, pembuatan golek pun menyebar ke seluruh wilayah Jawa Barat seperti Garut, Ciamis, Ciparay, Bogor, Kerawang, Indramayu, Cirebon, Majalaya, dan sebagainya.

Sumber : Konten Digital Depkominfo RI

Wayang Golek
Boneka diolah dengan mengantapi kayu ukiran berbongkol bulat, kepala dan langan dapat dilepaskan; wayang golek yang ditunjang tuding atau gagang lazimnya berpakaian tenunan berwarna-warni, kebanyakan berukuran besar.

Wayang golek menduduki meja kayu bergerek-gerek dengan seruntunan liang – plangkan yang berurutan rumpang, semuanya berlaku demikian agar supaya dalang bisa lebih nyaman mengatur gerak-gerik wayang. Tokoh halus selalu tampil dari palih sisi kanan, sedangkan bagi yang kasar, sebelah kiri.

Wayang golek sering digunakan untuk menamatkan pagelaran wayang kulit peranti menggambarkan perobahan di jagat raya – aluran berangsur dari tahap wujud eksistensi dwimatra ke yang trimatra. Namun rakyat murba Jawa barat lebih menggemari wayang golek karena intisari tematiknya lebih maujud dan duniawi ketimbang wayang kulit yang lebih cenderung bernuansa abstrak, jadi tidak nyana lebih populer di kalangan elit.

Bagi peminat yang ingin memperoleh boneka wayang golek…itu mah sual gampil, atau dengan kata lain itu sih soal gampang…réh iasa dipendak, karena bisa ditemukan di berbagai toko butik, terutama yang berlamparan di kota Bandung, ibukota propinsi Jawqa barat yang menginggapi puser budaya sunda priangan.

Dalang
Berdasarkan tradisi sunda menjelang datangnya agama islam, dalang mengantara antara dewata kahyangan dan insan bumi. Idem, dirinya berperan sebagai wahana sasana untuk menyebarkan tema-tema universal dan kaedah-kaedah agamiah, alhasil dapat dikatakan bahwa inilah satu contoh dari sekian banyak sarana didaktik dalam rangka meladeni kesejahteraan penduduk luak desa.

Dalang mengarah pagelaran yang sekaligus mencancangkan tugas selaku:

  • ahli teknik : menghidupkan wayang
  • juru ceritera : mengissahkan sandiwara sayu atau melodrama dalam bahasa sunda, terkadang bertutur dalam bahasa indonesia jika dalangnya berbicara sendirian dan badut-badut yang silih témpas – berbicara secara bergantian sama para hadirin.
  • penyanyi : persediaan lakon mesti dilafalnya,
  • juru tiru : harus meniru suara para tokoh supaya penonton akan segera mengenalnya,
  • konduktor : memberi petunjuk ke orkes dan wajib memainkan setiap alat musik yang bersangkutan.
Dalangnya harus menggembirakan penonton selama berjam-jam dan agar memenuhi tuntutan itu, kadangkala, selain mesti berperilaku lebih serius, bahkan amat lentong (aksen bicara yang menghormati) dalam suasana murung hati…dirinya diharap menakrirkan kesadaran akan humor; dari waktu ke waktu, dalang menyisipkan untai-untai kocak dan perbuatan jenaka untuk menyenangkan para hadirin dan memacukan kana’at sesuai kalangenan atau kesukaan penonton. Maka untuk itu ada beberapa tokoh yang kita tidak menjumpai pada babak lebih awal.

Lantas, ini niscaya halwa telinga yang nilai estetika amat berharga, dilapik keselarasan antara santainya adegan lucu dan melankolisme sayu rayu yang memberi kekhasaan pada seni klasik Wayang Golek di Indonesia.

Upami nyarios perkawis hal ieu, sayaktosna, nalika saurang kantos ningali tongtonan Wayang Golék, nyindang di wewengkon Parahyangan; tan wandé yen ieu hal anu pasti nu éndah jalaran pamandangan nu meni saé pisan téh ngadamel hatosna teu kapambeng nineung sami srangéngé hurung-hérang matak silo mentrang pagunungan éta anu disimbeuh cahayaanna sareng halimun nalangsa sapertos marakayangan nu ngawengkuna téa –
Jika berbicara tentang hal ini, sesungguhnya, ketika seseorang pernah melanja di wilayah Parahyangan – persemayaman dewata, dan menonton pagelaran Wayang Golek; pasti, sebab pemandangan yang bagus sekali ini membikin hatinya tidak mengewa untuk selalu rindu akan indahnya kelap-kelip matahari menjemur pegunungan yang disemburkan cahayanya dan kabut suram bagai arwah gentayangan yang meliputinya……
Begitulah, alam rindang yang menjelma di kalbu apabila menatap tamasya Wayang Golek yang kadang-kadang tampil mengenjut igal-igalan.
Ikhwal keadaannya……
Nanging, éta mah sanésna teu iasa janten ngageunjleungkeun kaayaan, teu uninga naha aya inohong nu ngalugas pakarang ka si anu bari nyingray, aéh…engké lanan atuh! Sakedahna, teu kéning dugi ngangluh teuing atanapi nyuhunkeun sarantos ti pak dalang, itu margi aya hal anu pasti nu nuju sumping, malih sanés réhing hamo aya naon-naon nu badé nyintreuk, kajabi nyandak hal anu pasti kanggo samudayana, ieu supados ngadamelna langkung bingah –
walaupun begitu, itu bukannya langkara membuat keadaan heboh, entah kenapa ada yang berseregang melutu si anu sembari ongkang-ongkang, eh…nanti dulu! Seharusnya, jangan sampai terlalu murung hati atau minta tempo dari pak dalang, itu sih lantaran ada sesuatu yang datang, malah bukan karena tidak bakal ada apa-apa yang akan menyentil, kecuali membawa sesuatu bagi semuanya, ini supaya membuatnya lebih bahagia.
Alhasil, bilih tos palay lali, mohal, nyaéta mung réhma ieu darmawisata téh kabuktosan sayogi miroséa hal anu pasti nu ngawulang pituduh wijaksana éta nu ngayuga tina anggah ungguh budaya Sunda; sanaos kitu, tangtos, dina danget ieu, teu luput yen sadayana téh masihan ka sugri urang kaperyogian hiji jiga sasana anu pangaosna urang ogé iasa ngemut katut nyepeng sapaosna –
Alhasil, andai kata sudah mau lupa, mustahil, yaitu hanya karena darmawisara ini terbukti sudi memperlihatkan sesuatu yang mengajar suatu keperluan seperti kebijaksanaan sunyata yang kelahirannya disebabkan oleh tata krama budaya sunda, walau demikian, tentunya, pada saat ini semuanya memberi kepada setiap orang pelajaran yang nilainya kita pun boleh mengingat dan memegang selamanya.

Baca juga : MAYAPADA INDAH WAYANG GOLEK

Wayang Golek Purwa (1)

Sejarah wayang di Jawa Barat mengacu kepada naskah Sunda kuna “Sanghyang Siksakandang Karesian” yang ditulis pada tahun 1518 M, yang diantaranya menyatakan bahwa: “Hayang nyaho di sakweh ing carita ma, gos ma: Darmayanti, Sanghyang Bayu, Jayasena, Pu jayakarma, Ramayana, Adiparwa, Korawasrama, Bimasorga, Rangga Lawe, Boma, Sumana, Kala Purba, Jarini, Tantri; sing sawatek carita ma memen tanya.”

Hampir semua ceritera diatas berasal dari Ramayana dan Mahabharata dan kata memen berarti dalang.

Beberapa kisah wayang dari lontar berbahasa Sunda juga sudah diterjemahkan: “Para putera Rama dan Rawana”.

Malah disebutkan menurut pendapat Brandes, nenek moyang kita telah mengetahui wayang sebelum kedatangan agama Hindu.

Berdasarkan penelitian Wiryanapura, pada masa Jabatan R.A.A. Wiranatakoesoema II, Bupati Bandung (1794-1829) – Bupati inilah yang mengundang Dalang (wayang kulit) Ki Guna Permana dari Tegal menjadi dalang “dalam” dan Dalang tetap Kabupaten Bandung. Ki Guna Permana dapat disebutkan menjadi leluhur para Dalang di Pasundan, dan muridnya Ki Gubyar, menyebarkan ilmunya di wilayah Purwakarta dan Ki Klungsu menyebarkanya di Garut.

Bupati Wiranatakoesoema III, juga memanggil Ki Rumyang murid Ki Guna Permana, karena menjadi “anak emas” Bupati, dalang Ki Rumyang disebut juga Dalang Sawat. Selain Ki Rumyang, Bupati Wiranatakoesoema III, yang terkenal dengan nama Dalem Karanganyar, juga memanggil Ki Darman dan Ki Surasungging.

Ki Darman diperintahkan untuk mencoba membuat wayang dari kayu, dan menetap di Cibiru. Sedangkan Ki Surasungging diperintahkan membuat gamelan, dan menetap di Cimahi.

Bentuk wayang golek buatan Ki Darman, mengacu kepada wayang kulit sesuai dengan petunjuk Bupati. Sampai sekarang Cibiru dikenal sebagai sentra pembuat wayang bermutu.Dalem Karang Anyar, memanggil Ki Dipa Guna (Ki Gubyar) guna memantau dan meneliti produk wayang. Garapan wayang golek masih kaku, dan masih menggunakan bahasa Jawa Tegal.

Pada pemerintahan R.A.A. Wiranatakoesoema IV, Dalang Mama Anting, diperintahkan untuk mendalang dalam basa Sunda, terutama pada pembicaraan/obrolan wayang, namun peman/kekawin tetap menggunakan Bahasa Jawa Kuna atau Bahas Kawi, hal ini dimaksudkan supaya masyarakat Bandung bisa lebih mengerti cerita wayang, walaupun basa Sundanya pun kaku, patut diakui bahwa Dalang Mama Anting lah yang meneratas jalan pedalangan dalam basa Sunda.

Salah satu murid Mama Anting, Bradjanata, tamatan sekolah Pradja, asli orang Sunda. Beliaulah yang menata dan “merapikan” bahasa Sunda untuk pagelaran wayang, selain pagelaran wayang juga seni-tari dan gamelan pengiring pun ditata, malah pernah mencoba menggunakan bahasa Melayu khusus untuk cara bicara Cakil, yang sampai sekarang menggunakan masih berbahasa Melayu. Sejak saat itulah wayang banyak digemari masayarakat dan menjadi kebanggaan masyarakat.

Menurut Elan Surawisastra dan Yudoseputro (1994), pada pertumbuhan awal, bagian lengan wayang kulit masih menempel pada tubuhnya. Model wayang kulit itu masih bisa dilihat pada jenis wayang yang menggambarkan tokoh dewa.

Cirebon merupakan daerah pertama di Jawa Barat yang menjadi tempat bekembangnya wayang. Wayang Kulit, (wiryanapura: Somatri 1989), adalah bentuk pertama yang ada di Cirebon. Perkembangannya berkaitan dengan pertumbuhan agama Islam, terutama ketika Sunan Gunung Jati (1479-1568) memerintah, wayang dimanfaatkan sebagai media dakwah keislaman.

Golek menak yang menceritakan kisah Amir Hamzah (Amir Ambyah, Menak Hamjah), mulai dikenal di Cirebon pada awal abad-16, pada pemerintahan Panembahan Ratu, cicit Sunan Gunung Jati. Golek Menak dikenal dengan sebutan Golek Papak.

Wayang yang terbuat dari kayu terdiri atas dua jenis yang berbeda:

  1. Wayang yang mirip boneka kayu, terbuat dari kayu bulat torak, wayang ini dikenal sebagai Wayang Golek. Yang juga berbagai jenis antara lain: wayang golek purwa, wayang pakuan, wayang elung(Sunda), wayang cepak (Sunda-Jawa), wayang golek menak (Jawa) dan wayang dangkluk (Bali).
  2. Wayang yang mirip wayang kulit, dibuat dari kayu pipih, disebut Wayang Klitik.


Jiweng

Wayang Golek – Jawa Barat

Kata Golek, merupakan istilah Sunda untuk menafsir-kirata: yaitu ugal-egol ulak-olek (bergerak seperti menari). Bagian kepala merupakan unsur pokok pada wayang golek, kepala dibentuk dan dihias. Hiasan kepala diukir dengan pisau raut dan diberi warna. Kepala dan lengan golek termasuk kepada bagian yang bisa di ugal-egol ulak-olek. Pakaian yang dikenakan pada golek dibuat dari bahan kain, menutupi bagian bawah tubuh yang tidak berkaki. Sampurit atau gapit digunakan sebagai pegangan dalang ketika memainkan golek dan untuk menancapkan golek pada alas gebog (gedebok/batang pisang). Sedangkan ari golek dari bahasa Jawa yang berarti mencari, dimaksudkan agar setelah selasai mengikuti lakon, penonton bisa “nggoleki”, mencari inti pelajaran yang tersirat pada pagelaran itu.

Golek memiliki sifat pejal. Penikmatan bentuknya sama dengan menikmati arca, boneka atau benda trimatra lainnya. Kesempurnaan bentuknya bisa dicerap baik dari arah depan, samping maupun belakang. Wayang golek merupakan boneka tiruan dari rupa manusia, dibuat dari kayu berbentuk bulat-torak untuk sebuah pagelaran, ia “dihidupkan” oleh Dalang yang sekaligus berperan sebagai sutradara dan pemberi watak atau ekspresi tokoh golek melalui sabetan dan antawacana. Bahan kayu untuk golek dari kayu “lame” atau “jeungjing (albasia)”. Tuding dan sampurit, pada umumnya dibuat dari bambu.

Setelah kemerdekaan, berkembang varian pertujukan pewayangan, namun dapat dikatakan tidak berkembang, seperti pada wayang golek purwa, misalnya:

  • Wayang catur, “pagelaran” cerita wayang, tanpa wayang tetapi menggunakan gamelan lengkap sebagai pengiring “musik”nya. Ceritanya mengacu kepada Ramayana dan Mahabarata. Wayang catur ini “diakibatkan” karena penjajahan Jepang yang mengadakan jam malam.Namun animo masyarakat akan hiburan/wayang. Radio Jepang mengumumkan, barangsiapa yang dapat membuat pagelaran wayang dalam waktu singkat, “dapat menggelarkan” wayangnya pada siaran radio jepang. Hal ini dapat dipenuhi oleh Dalang R.Umar Partasuwanda.
  • Wayang Pakuan, Pagelarannya mengisahkan raja-raja Pajajaran/Pakuan. Bentuk wayang pakuan hampir mirip dengan wayang Cepak Cirebon atau wayang bendo. Bahu wayang pakuan lebih panjang daripada bahu wayang golek Purwa.
  • Wayang pantun, alur ceritanya mengadaptasi ceritera pantun Sunda. Bentuknya mirip wayang Pakuan – meniru pakaian Raja Pajajaran.


Cepot dan Bagong

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.