Wayang Golek Purwa (1)

Sejarah wayang di Jawa Barat mengacu kepada naskah Sunda kuna “Sanghyang Siksakandang Karesian” yang ditulis pada tahun 1518 M, yang diantaranya menyatakan bahwa: “Hayang nyaho di sakweh ing carita ma, gos ma: Darmayanti, Sanghyang Bayu, Jayasena, Pu jayakarma, Ramayana, Adiparwa, Korawasrama, Bimasorga, Rangga Lawe, Boma, Sumana, Kala Purba, Jarini, Tantri; sing sawatek carita ma memen tanya.”

Hampir semua ceritera diatas berasal dari Ramayana dan Mahabharata dan kata memen berarti dalang.

Beberapa kisah wayang dari lontar berbahasa Sunda juga sudah diterjemahkan: “Para putera Rama dan Rawana”.

Malah disebutkan menurut pendapat Brandes, nenek moyang kita telah mengetahui wayang sebelum kedatangan agama Hindu.

Berdasarkan penelitian Wiryanapura, pada masa Jabatan R.A.A. Wiranatakoesoema II, Bupati Bandung (1794-1829) – Bupati inilah yang mengundang Dalang (wayang kulit) Ki Guna Permana dari Tegal menjadi dalang “dalam” dan Dalang tetap Kabupaten Bandung. Ki Guna Permana dapat disebutkan menjadi leluhur para Dalang di Pasundan, dan muridnya Ki Gubyar, menyebarkan ilmunya di wilayah Purwakarta dan Ki Klungsu menyebarkanya di Garut.

Bupati Wiranatakoesoema III, juga memanggil Ki Rumyang murid Ki Guna Permana, karena menjadi “anak emas” Bupati, dalang Ki Rumyang disebut juga Dalang Sawat. Selain Ki Rumyang, Bupati Wiranatakoesoema III, yang terkenal dengan nama Dalem Karanganyar, juga memanggil Ki Darman dan Ki Surasungging.

Ki Darman diperintahkan untuk mencoba membuat wayang dari kayu, dan menetap di Cibiru. Sedangkan Ki Surasungging diperintahkan membuat gamelan, dan menetap di Cimahi.

Bentuk wayang golek buatan Ki Darman, mengacu kepada wayang kulit sesuai dengan petunjuk Bupati. Sampai sekarang Cibiru dikenal sebagai sentra pembuat wayang bermutu.Dalem Karang Anyar, memanggil Ki Dipa Guna (Ki Gubyar) guna memantau dan meneliti produk wayang. Garapan wayang golek masih kaku, dan masih menggunakan bahasa Jawa Tegal.

Pada pemerintahan R.A.A. Wiranatakoesoema IV, Dalang Mama Anting, diperintahkan untuk mendalang dalam basa Sunda, terutama pada pembicaraan/obrolan wayang, namun peman/kekawin tetap menggunakan Bahasa Jawa Kuna atau Bahas Kawi, hal ini dimaksudkan supaya masyarakat Bandung bisa lebih mengerti cerita wayang, walaupun basa Sundanya pun kaku, patut diakui bahwa Dalang Mama Anting lah yang meneratas jalan pedalangan dalam basa Sunda.

Salah satu murid Mama Anting, Bradjanata, tamatan sekolah Pradja, asli orang Sunda. Beliaulah yang menata dan “merapikan” bahasa Sunda untuk pagelaran wayang, selain pagelaran wayang juga seni-tari dan gamelan pengiring pun ditata, malah pernah mencoba menggunakan bahasa Melayu khusus untuk cara bicara Cakil, yang sampai sekarang menggunakan masih berbahasa Melayu. Sejak saat itulah wayang banyak digemari masayarakat dan menjadi kebanggaan masyarakat.

Menurut Elan Surawisastra dan Yudoseputro (1994), pada pertumbuhan awal, bagian lengan wayang kulit masih menempel pada tubuhnya. Model wayang kulit itu masih bisa dilihat pada jenis wayang yang menggambarkan tokoh dewa.

Cirebon merupakan daerah pertama di Jawa Barat yang menjadi tempat bekembangnya wayang. Wayang Kulit, (wiryanapura: Somatri 1989), adalah bentuk pertama yang ada di Cirebon. Perkembangannya berkaitan dengan pertumbuhan agama Islam, terutama ketika Sunan Gunung Jati (1479-1568) memerintah, wayang dimanfaatkan sebagai media dakwah keislaman.

Golek menak yang menceritakan kisah Amir Hamzah (Amir Ambyah, Menak Hamjah), mulai dikenal di Cirebon pada awal abad-16, pada pemerintahan Panembahan Ratu, cicit Sunan Gunung Jati. Golek Menak dikenal dengan sebutan Golek Papak.

Wayang yang terbuat dari kayu terdiri atas dua jenis yang berbeda:

  1. Wayang yang mirip boneka kayu, terbuat dari kayu bulat torak, wayang ini dikenal sebagai Wayang Golek. Yang juga berbagai jenis antara lain: wayang golek purwa, wayang pakuan, wayang elung(Sunda), wayang cepak (Sunda-Jawa), wayang golek menak (Jawa) dan wayang dangkluk (Bali).
  2. Wayang yang mirip wayang kulit, dibuat dari kayu pipih, disebut Wayang Klitik.


Jiweng

Wayang Golek – Jawa Barat

Kata Golek, merupakan istilah Sunda untuk menafsir-kirata: yaitu ugal-egol ulak-olek (bergerak seperti menari). Bagian kepala merupakan unsur pokok pada wayang golek, kepala dibentuk dan dihias. Hiasan kepala diukir dengan pisau raut dan diberi warna. Kepala dan lengan golek termasuk kepada bagian yang bisa di ugal-egol ulak-olek. Pakaian yang dikenakan pada golek dibuat dari bahan kain, menutupi bagian bawah tubuh yang tidak berkaki. Sampurit atau gapit digunakan sebagai pegangan dalang ketika memainkan golek dan untuk menancapkan golek pada alas gebog (gedebok/batang pisang). Sedangkan ari golek dari bahasa Jawa yang berarti mencari, dimaksudkan agar setelah selasai mengikuti lakon, penonton bisa “nggoleki”, mencari inti pelajaran yang tersirat pada pagelaran itu.

Golek memiliki sifat pejal. Penikmatan bentuknya sama dengan menikmati arca, boneka atau benda trimatra lainnya. Kesempurnaan bentuknya bisa dicerap baik dari arah depan, samping maupun belakang. Wayang golek merupakan boneka tiruan dari rupa manusia, dibuat dari kayu berbentuk bulat-torak untuk sebuah pagelaran, ia “dihidupkan” oleh Dalang yang sekaligus berperan sebagai sutradara dan pemberi watak atau ekspresi tokoh golek melalui sabetan dan antawacana. Bahan kayu untuk golek dari kayu “lame” atau “jeungjing (albasia)”. Tuding dan sampurit, pada umumnya dibuat dari bambu.

Setelah kemerdekaan, berkembang varian pertujukan pewayangan, namun dapat dikatakan tidak berkembang, seperti pada wayang golek purwa, misalnya:

  • Wayang catur, “pagelaran” cerita wayang, tanpa wayang tetapi menggunakan gamelan lengkap sebagai pengiring “musik”nya. Ceritanya mengacu kepada Ramayana dan Mahabarata. Wayang catur ini “diakibatkan” karena penjajahan Jepang yang mengadakan jam malam.Namun animo masyarakat akan hiburan/wayang. Radio Jepang mengumumkan, barangsiapa yang dapat membuat pagelaran wayang dalam waktu singkat, “dapat menggelarkan” wayangnya pada siaran radio jepang. Hal ini dapat dipenuhi oleh Dalang R.Umar Partasuwanda.
  • Wayang Pakuan, Pagelarannya mengisahkan raja-raja Pajajaran/Pakuan. Bentuk wayang pakuan hampir mirip dengan wayang Cepak Cirebon atau wayang bendo. Bahu wayang pakuan lebih panjang daripada bahu wayang golek Purwa.
  • Wayang pantun, alur ceritanya mengadaptasi ceritera pantun Sunda. Bentuknya mirip wayang Pakuan – meniru pakaian Raja Pajajaran.


Cepot dan Bagong

About Rachel

I am who I am

Posted on January 8, 2010, in Budaya / Culture, Mahabharata, Wayang and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: