Comics RA Kosasih

RA Kosasih, The Greatest Indonesian Comic Writer

RA Kosasih dikenal sebagai Bapak Komik Indonesia. Ia menghabiskan hari tua dengan memasak dan menonton bola.

Sepanjang hari, di usia redupnya, Raden Ahmad Kosasih, tinggal di sebuah ruang berukuran 5 x 20 meter persegi di lantai atas rumahnya di Jalan Cempaka Putih Rempoa Ciputat. Lukisan pemandangan Ciampea Bogor karya Abdul Kadir, kawannya, tergantung di ruang itu. Di sebelahnya terpajang repro sampul komik Sri Asih, karyanya, yang diperbesar dan difigura. Lukisan dan repro komik itu tampak kusam, tak terawat.

Dua dipan tua tampak di kamarnya. Kosasih yang kini berusia 86 tahun biasa berbaring di dipan itu bersama cucu tunggalnya yang kini kelas 3 SMA, Adinandra. Sang istri, Lili Karsilah, baru saja mangkat dua bulan lalu karena terserang stroke dan asma.

Ia bersama Adi pun menghabiskan malam dengan menonton sepakbola dari televisi Changhong 14 inch miliknya. “Saya masih hapal klub-klub sepakbola Italia dan Inggris. Tapi saya tak punya kesebelasan favorit. Namanya juga orang tua, siapa saja yang bertanding dan mainnya bagus ya didukung. Saya juga tak mau mendukung Indonesia. Kalau mainnya jelek ya biar saja kalah,” katanya.

Di sudut ruangan, komikus yang lahir 3 April 1919 itu menyimpan semua peralatan gambarnya dengan rapi untuk kenang-kenangan. Di salah satu meja tampak bertumpuk komik-komik karyanya. Ada Sri Asih, Siti Gahara, Sri Dewi, Ramayana, dan yang paling terkenal: Mahabharata. “Komik-komik saya sudah tak lengkap lagi. Dulu, kalau ada saudara datang dan minta, pasti saya kasih. Sekarang sudah tak ada yang bisa saya berikan,” katanya, Rabu (16/3).

Komik epos besar dari India (Mahabharata dan Ramayana) itu memang menjadi puncak karyanya. Dari 1955 sampai 1960 itu ia tak pernah berhenti membuat berpuluh-puluh jilid komik untuk memuaskan pembacanya. Mahabharata senantiasa dinanti di kios-kios buku maupun di rumah persewaan komik di seluruh Indonesia.

“Saat itu komik-komik Amerika harus minggir. Komik saya yang merajai pasar. Di mana-mana komik saya dijual, bahkan memenuhi emperan-emperan toko di seluruh Indonesia. Orang luar Jawa mengenal kisah Mahabharata pertama kali ya dari komik saya,” ungkap Kosasih.

Begitu populernya komik terbitan Melodi Bandung itu, Kosasih harus “ngebut” menggambar. “Saya ‘diperbudak’ oleh Melodi,” ucap Kosasih sembari tertawa.

“Saya harus terus menggambar, tak boleh berhenti. Buang air pun tak sempat. Akibatnya sekarang usus besar saya bermasalah. Sekarang saya harus terus makan pisang, tak boleh berhenti,” ia kembali terkekeh.

Beberapa potong buah pisang tampak berebut tempat di meja yang dipenuhi komik-komik karyanya itu. Di meja itu juga ada tiga botol besar berisi air putih. “Saya juga harus banyak minum. Karena banyak minum, saya jadi sering bolak-balik ke kamar mandi,” ucapnya.

Pertemuan Kosasih dengan Tatang Atmadja, salah seorang pemilik Melodi, bermula ketika penerbit itu memasang iklan mencari penggambar komik di sebuah majalah. Kosasih yang tinggal di Bondongan Bogor tertarik dan mengirimkan karyanya. Saat itu anak dari Wirakusuma dan Suwarni itu bekerja di Kebun Raya Bogor sejak 1940. Pengalaman menggambar didapatnya di kantor itu karena ia dipekerjakan sebagai tukang gambar binatang, tanaman, dan penyakit-penyakit tanaman.

Melodi tertarik dan datang ke Bogor meminta Kosasih meniru komik Amerika tapi dengan tokoh Indonesia. Pada 1953 itu pun Kosasih mencipta komik Sri Asih yang mengadaptasi tokoh superhero Wonder Woman terbitan King Feature Syndicate. “Sri Asih itu Sri yang punya sifat pengasih, tapi juga sakti sekali. Kesaktiannya tak terbatas. Meriam pun dilawan,” tuturnya.

Berbeda dari Wonder Woman yang berpakaian modern, Sri Asih memakai kain kebaya dan kemben. Gadis berambut panjang dengan mata besar, memakai mahkota, giwang, dan manik di dahi–mirip perempuan India–itu jago berkelahi, bertenaga dahsyat, dan bisa terbang. Sri Asih yang merupakan penjelmaan Nani, gadis kurang cerdas, keponakan seorang pejabat yang kerap dikirim ke Kalkuta dan New York, itu mengalahkan lawan-lawannya: Serigala Hitam, Bajak Laut, Kawa-Kawa, dan dedemit lain.

Sri Asih laris. “Penerbit datang dan bilang, ‘laku nih’. Orang Indonesia ternyata senang yang aneh-aneh. Buktinya sekarang acara televisi tentang mistik laku. Itu kan aneh. Jadi semakin aneh, semakin laku. Sri Asih itu pakai kemben tapi jago terbang. Ini kan aneh dan bohong. Tapi pembaca senang dibohongi. Jadi saya pun keterusan mencipta komik seribu bohong,” ungkapnya.

“Kebohongan” pertama berlanjut pada seri “kebohongan” yang lain: Siti Gahara. Gahara ia ambil dari plesetan “sahara”. Sesuai namanya, Siti Gahara adalah Ratu Kerajaan Turkana dengan pakaian dinas Timur Tengah: perut terbuka, lengan baju sebatas siku, celana panjang, dan terompah sebagai alas kaki. Tak beda dengan Sri Asih, Siti Gahara juga bisa terbang dan kampiun dalam urusan berkelahi. Lawannya adalah nenek sihir.

Siti Gahara pun laku keras. Ribuan surat ia terima. “Ada yang ingin kenalan, minta dilamar, ngajak kawin dan sebagainya. Saat itu saya sudah menikah dan tak ingin kawin lagi,” ucap Kosasih kembali tertawa.

Kosasih pun meminta penerbit untuk menyembunyikan alamatnya. “Jadi selama saya bikin komik termasuk saat mencipta Mahabharata tak ada yang tahu alamat saya. Nama dan wajah saya baru terpublikasi pada pertengahan 1970-an saat Arswendo (Atmowiloto) mewawancarai saya. Dia tahu alamat saya saat berkunjung ke Prancis. Rupanya dia lama mencari saya dan baru menemukan alamat saya justru di Paris.”

Pada 1955, Tatang kembali menemuinya dan meminta dia menggambar komik Wayang. Saat itu, kata Kosasih, Tatang menyebut komik Wayang bakal menjadi tren. Komikus yang senang menonton wayang golek itu pun kemudian berburu buku Mahabharata terbitan Balai Pustaka dan Ramayana yang ia pesan khusus pada Im Jam Tjoe, penerbit di Semarang.

Sejak itu ia sibuk memindahkan cerita epos legendaris dari India itu ke dalam komik. “Saya hanya memakai kerangka ceritanya saja. Seluruh dialog dan gambar saya karang sendiri. Jadi kalau saya sekarang baca cerita Mahabharata dari buku-buku yang baru diterbitkan, saya kadang menemukan dialog yang bersumber dari komik saya, bukan dari buku aslinya,” ia bercerita.

Mahabharata dan Ramayana karya Kosasih, bersama komik Wayang Purwa karya S. Ardisoma, dan komik Jabang Tutuka karya Oerip meramaikan khasanah komik wayang waktu itu. Komik Mahabharata diselesaikan dalam waktu hanya dua tahun. Rata-rata ia dapat menyelesaikan 2 jilid, 48 halaman per jilid, setiap bulan.

Ramayana dan Mahabharata pun meledak. “Dari komik Wayang itu saya bisa membeli rumah dan motor brompit. Rasanya keren sekali waktu itu,” ia mengenang. “Tapi saya tak mau pamer dan besar kepala. Saya tetap ingin bersembunyi. Saya tak ingin terkenal, cukup komik saya saja yang populer.”

Pada pertengahan 1960-an, kepopuleran komik wayang menurun. Kosasih pun mengkomikkan legenda Lutung Kasarung, Sangkuriang dan dongeng untuk anak-anak. Pada 1967-1968, Melodi sementara berhenti menerbitkan komik. Pada awal 1970-an, kisah Mahabharata kemudian berpindah penerbit ke penerbit Maranatha Bandung. “Untuk terbitan Maranatha, saya menggambar ulang dari awal. Ceritanya juga saya tambah-tambahi,” ujarnya.

Cerita terbitan Maranatha inilah yang hingga kini masih bisa ditemui di pasar, kendati dalam jumlah yang kecil. Mahabharata juga diterbitkan kembali oleh penerbit Elex Media beberapa tahun lalu dengan format komik Jepang, berpanel lebih kecil, dan dengan beberapa penambahan onomatopoeia. Dari dua penerbit inilah Kosasih masih menerima royalti. “Tapi jumlahnya kecil sekali,” katanya.

Sejak 1993, ia juga sudah tak pernah lagi menyentuh pen, kuas, dan tinta. “Saya berhenti membuat komik karena sudah tak bisa lagi menggambar. Tangan saya menggigil setiap kali menggambar. Hasilnya pun selalu jelek,” katanya.

Usia uzur mendatanginya. Ia pun memutuskan menjual rumahnya di Bogor dan memilih tinggal di rumah anaknya, Yudowati Ambiana, di Rempoa. Hari-harinya kini diisi dengan bercanda dengan cucunya, menonton sepakbola, memasak air, mencuci piring dan menyetrika pakaian. “Untuk melawan usia tua badan harus terus digerakkan,” katanya.

Seusai salat subuh, ia menuruni 16 anak tangga dari ruang atas untuk memasak air dan menuangkannya ke dalam botol setelah dingin. Ia juga menyeduh susu Anlene untuk diminum. Menu makan pagi favoritnya telah menunggu: tahu dan tempe. Setelah itu, ia mengakhirinya dengan menyantap sepotong pisang. “Buah pisang ini yang sekarang menolong usus saya dari kegilaan bekerja pada usia muda. Dulu pekerjaan saya duduk terus, jarang buang air besar, pantat rasanya panas terus. Nah sekarang, di usia tua, saya merasakan akibatnya.”

Yos Rizal Suriaji

About Rachel

I am who I am

Posted on February 22, 2010, in Folktales, Indonesia, Mahabharata and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: