3 karakter perempuan dalam Mahabharata

3 karakter perempuan dalam Mahabharata

1. Shakuntala

Dia adalah nenek moyang dari Pandawa dan Kurawa. Lahir dari pasangan Resi Wiswamitra dan bidadari cantik Menaka. Sebetulnya bidadari Menaka ini diutus oleh Dewa Brahma untuk menggoda tapa bratanya Wiswamitra dan berhasil sehinga Wiswamitra sempat menjalin cinta dengan Menaka selama beberapa tahun. Ketika Wiswamitra tahu bahwa Menaka hanya utusan dewa untuk menggodanya dari tapa bratanya, ditinggalkannya Menaka dan si bidadari ini pulang ke kahyangan dalam keadaan hamil. Tiba waktunya melahirkan, Menaka pergi ke tepi Sungai Malini dan lahir seorang bayi perempuan tetapi bayi itu ditinggalkannya tanpa rasa kasih sayang sedikitpun.

Alkisah bayi perempuan itu ditemukan oleh seorang Resi Kanwa atau ada yang menulis sebagai Bagawan Kanwa, bayi itu sedang dirawat oleh seekor burung Sakuni. Jangan tanya saya seperti apa burung Sakuni itu, karena saya juga tidak bisa membayangkan – nya. Timbul belas kasihan dari Bagawan Kanwa, diangkatnya bayi itu sebagai anaknya dan dinamakan Shakuntala karena bayi itu sebelumnya dalam perawatan burung Sakuni. Shakuntala tinggal bersama ayah angkatnya di kaki Gunung Himawan.

Singkat cerita Shakuntala setelah beranjak dewasa bertemu Prabu Duswanta, seorang raja yang sedang berburu di hutan Gunung Himawan. Prabu Duswanta adalah raja dari satu kerajan India kuno yang kelak akan membangun Dinasti Kuru .Shakuntala dibujuk Prabu Duswanta untuk bersedia dinikahi karena sang prabu sudah kadung jatuh cinta padanya karena kecantikan Shakuntala. Mulanya Shakuntala menolak terus tetapi karena sang prabu tidak lelah membujuk, maka Shakuntala bersedia dinikahi dengan syarat bahwa anak yang dilahirkannya kelak mesti menjadi pewaris resmi kerajaannya Prabu Duswanta. Sang Prabu setuju saja dan kemudian dari pernikahan mereka lahir seorang putra dinamakan Sarwadamana yang kelak berganti nama menjadi Bharata.

Selesai menikahi Shakuntala, Prabu Duswanta kembali ke kerajaannya tapi tak kembali lagi selama bertahun-tahun untuk menjemput istri dan anaknya. Melihat Shakuntala yang sering termangu menanti suaminya tak kunjung menjemput, maka Bagawan Kanwa memerintahkan agar Shakuntala pergi ke ibukota untuk menemui Prabu Duswanta dan membawa anaknya Sarwadamana untuk diakui oleh Prabu Duswanta. Shakuntaka menurut dan berangkatlah dia ke ibukota.

Apa daya, setibanya di istana kerajaan sang prabu, ketika Shakuntala dan Sarwadamana menemui Prabu Duswanta di tengah rapat umum, justru sang prabu malah menyangkal kehadiran Shakuntala dan Sarwadamana. Hingga singkat ceritanya, tiba-tiba terdengar sabda dari langit yang malah membenarkan perkataan Shakuntala tentang dirinya dan tentang Sarwadamana. Ada satu versi lain yang pernah saya baca, untuk membuktikan keberanan perkataannnya, Shakuntala meminta pertolongan dewa untuk memiliki kesaktian agar dapat berjalan melayang di udara sebagai bukti kesucian hatinya.

Setelah sabda dari langit, Prabu Duswanta tidak bisa mengelak lagi karena disaksikan orang banyak, akhirnya Prabu Duswanta mengakui Shakuntala sebagai istrinya dan Sarwadamana sebagai putranya, dan atas sabda dari langit, Sarwadamana berganti nama menjadi Bharata. Bharata inilah yang kelak menurunkan raja-raja Astinapura sehingga kelak lahir kisah Pandawa dan Kurawa.

2. Kunti

Kunti yang saya maksud disini bukan singkatan dari Kuntilanak sa;ah satu anggota perkumpulan makhuk gaib, tetapi ibu dari Pandawa Lima, istri Prabu Pandu. Kunti bernama asli Pritha, putri Raja Surasena dan ketika diadopsi oleh Raja Kunthiboja, Pritha diganti nama menjadi Kunti.

Ada satu versi menyatakan Kunti di masa gadisnya pernah menyalahgunakan mantra sakti Adityaredhaya, pemberian seorang Resi Durwasa untuk dapat memanggil dewa-dewi sesuai yang dikehendakinya. Ketika di suatu hari Kunti menggunakan mantra tersebut, Dewa Surya terpanggil dan Kunti akhirnya mengandung putra dari Dewa Surya karena penyalahgunaan mantra tersebut. Padahal maksud dari Kunti adalah untuk menguji kebenaran kesaktian mantra anugrah tsb. Karena Kunti tidak ingin keperawanannya terkoyak, maka dikisahkan digunakan berbagai kesaktian di kerajaan ayahnya untuk melahirkan puteranya, tidak melalui jalan lahir tetapi melalui telinganya, maka putranya dinamakan Karna, karena dikeluarkan dari telinga. Nah, kan secara logika, kan, tidak mungkin. Setelah putranya lahir, Kunti justru membuang putranya ke Sungai Aswa.

Kunti menikah dengan Pandu, Raja Kuru, namun Pandu tidak bisa memperoleh anak secara bersenggama normal dengan Kunti dan Madri, istri Pandu yang lain karena Pandu kena kutukan seorang resi yang mengutuknya Pandu akan mati saat bersenggama. Karena itu berbekal kesaktian mantranya Kunti memanggil tiga dewa yaitu Dewa Yama yang memberinya anugrah seorang putra bernama Yudhistira, Dewa Bayu yang memberi anugrah seorang Bima dan Dewa Indra yang memberi anugrah seorang Arjuna. Dikisahkan dalam epik ini, semua anak-anak Kunti tersebut disilsilahkan sebagai putra Pandu atas pertolongan tiga dewa tersebut. Madri, yang juga diberitahukan kesaktian mantra Adityaredhaya mencobanya untuk memanggil Dewa Aswin, kemudian Madri mendapakan putra kembar Nakula dan Sadewa.

Pandu kemudian meninggal sesuai kutukan saat mencoba bercinta dengan Madri dan karena Madri ingin ikut mati bersama Pandu dengan menjatuhkan diri ke api kremasi yang membakar Pandu, maka Kuntilah yang akhirnya menjadi ibu dari kelima anak Pandu tsb. Kunti bersedia mengasuh Nakula dan Sadewa putra Madri seperti anaknya sendiri, mungkin sifat ini yang membuat Kunti menjadi dambaan para pria zaman dulu di Tanah Jawa ketika mencari istri.

3. Drupadi

Drupadi atau Dropadi atau Draupadi ini Putri Prabu Drupada dari Kerajaan Pancala, hasil dari proses upacara Putrakama Yadnya, suatu upacara permintaan kepada dewa untuk memperoleh keturunan. Drupadi lahir dari api suci yang timbul dari upacara tsb. Dikisahkan Drupadi jadi hadiah kompetisi bagi para ksatria yang bisa memenangkan perlombaan memanah hanya melihat bidikan dari bayangan. Karna putra Kunti memenangkan pertandingan dan seharusnya Drupadi jadi istri Karna tetapi Drupadi menolak dengan alas an Karna bukan dari kalangan ksatria. Pertandingan dibuka kembali untuk semua kalangan dan Arjuna yang saat itu sedang menyamar sebagai brahmana, memenangkan pertandingan dan mendapatkan Drupadi. Tapi ternyata yang jadi suami Drupadi bukan cuma Arjuna!

Arjuna membawa Drupadi, pulang bersama saudara-saudaranya menemui Kunti. Di pikiran Kunti, kelima anaknya pulang dari mengemis maka Kunti meminta hasil mengemis dibagi sama rata di antara Pandawa, tetapi Kunti kaget kalau Arjuna juga mendapatkan Drupadi selama periode mengemis tsb. Karena Kunti emoh berat kena kenapa-kenapa atas keputusannya sendiri, maka Drupadi pun menjadi istri dari Pandawa lima, dan melayani Pandawa Lima diatur waktunya secara bergilir. Setiap suami dapat jatah setahun didampingi Drupadi. Wow! Dikisahkan juga supaya adil ketika Drupadi sedang saatnya melayani salah satu dari Pandawa Lima, maka jika ada di antara Pandawa Lima tsb ada yang mengusik kemesraan Drupadi, maka pengganggu akan diasingkan ke hutan selama setahun tahun dan itulah yang didapatkan Arjuna ketika memaksa masuk ke kamar kakaknya, Yudhistira yang sedang mendapat jatah kemesraan dari Drupadi, untuk mengambil senjata.

Hidup dalam pernikahan poliandri bukan berarti kebahagiaan senantiasa buat Drupadi. Dia pernah jadi sita jaminan ketika Yudhistira kalah mernain dadu dengan Duryodana dan Dursasana. Salah satu bagian dari Mahabharata yang terkenal ketika Dursasana dengan kasar menelanjangi secara kasar menarik kain sari Drupadi untuk mempermalukannya di depan umum. Tetapi berkat pertolongan Sri Kresna, kain yang ditarik Dursasana tidak habis-habis sehingga Drupadi urung dipermalukan. Pertolongan dari Kresna tsb murni karena karma baik dari pertolongan Drupadi yang membebat tangan Kresna yang terluka terkena Cakra di satu peristiwa upacara Rajasuya.

Drupadi melahirkan satu putra untuk setiap ksatria Pandawa Lima. Jadi total Drupadi melahirkan, lima putra yang disebut Pancawala atau Pancakumara. Dalam pewayangan versi Jawa, Drupadi merupakan permaisuri Prabu Yudhistira melahirkan seorang putra yang dinamai Raden Pancawala. Namun dari versi India maupun versi Jawa, pewaris takhta Dinasti Kuru setelah Yudhistira bukan berasal dari salah satu putra Drupadi, melainkan Parikesit, cucu Arjuna dari Abimanyu, putra Subadra.

Dari sekian banyak istri Pandawa Lima, hanya Drupadi yang diajak untuk melakukan perjalanan suci sebelum masuk ke surga. Namun Drupadi mati lebih dulu di satu gurun sebelum tiba di Himalaya karena kesalahannya, hanya mencintai Arjuna dan tidak berlaku adil karena tidak memberikan cintanya juga kepada para ksatria Pandawa Lima yang lainnya.

About Rachel

I am who I am

Posted on March 25, 2010, in Mahabharata, Wayang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: