Kebahagiaan untuk melahirkan, membesarkan putra

Kebahagiaan untuk melahirkan, membesarkan putra
Seekor induk ayam, bertelor, bermeditasi mengerami telor-telornya, dengan hening, sabar dan penuh kasih menunggu menetasnya mereka. Setelah menetas, sang induk melindungi, mengajari anak-anaknya mencari makan sampai mereka mandiri.
Seorang ibu mempersiapkan raga dan jiwanya agar telurnya dibuahi. Selanjutnya telur yang menjadi sel induk tersebut, dipelihara dalam rahim yang kokoh dan difasilitasi untuk menggandakan diri, berkembang dan dibawa kemanapun juga selama sembilan bulan sepuluh hari. Setelah sang bayi lahir, diberinya makan dari air susunya, diajarinya bicara dengan penuh kesabaran, bahkan terus menerus didoakannya sampai akhir hayat dirinya.
Seorang penulis, pematung, penggubah lagu, bahkan seorang CEO Perusahaan merenungkan lama untuk melahirkan karya-karyanya dan memolesnya agar menjadi karya yang indah, bermanfaat, agar dinikmati masyarakat luas. Kasih Ibu berada dalam diri setiap manusia, setiap hewan, setiap tumbuhan, setiap sel dan pada seluruh alam semesta. Melahirkan, mengungkapkan pikiran dengan tindakan, menghasilkan karya, melindungi dan memeliharanya dengan tulus, dengan penuh kasih adalah sifat kasih ibu dalam diri setiap manusia.
Dewi Kunti dapat menjadi peran yang nyata sebagai ibu teladan yang membesarkan putera-puteranya untuk berjalan menempuh kebenaran. Dalam perjalanannya, sesuai perkembangan spiritual, ada juga kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya selagi muda, tetapi seluruh “hutang-hutangnya” dapat diselesaikan dalam kehidupannya, sehingga konon diapun mencapai moksa saat meninggalkan dunia.

Mantra yang memelihara dharma di dunia
Dewi Kunti kecil bernama Pritha diangkat anak oleh Prabu Kuntibhoja yang bijaksana. Sang putri berbudi pekerti luhur, berbakti kepada Yang Maha Kuasa, kepada kedua orang tuanya, serta penuh kasih terhadap sesama. Suatu ketika, ada seorang pendeta bernama Resi Durwasa mengunjungi istana raja tersebut. Resi itu baru saja mengakhiri tapa bratanya dan datang ke istana untuk minta makan. Dewi Kunti menyediakan berbagai jenis makanan yang lezat bagi tamunya tersebut.
Sang Resi Durwasa tersentuh oleh ketulusan puteri raja dan diberilah dia Mantra Aji Gineng, Aditya Hrdaya, yang dapat dipergunakan untuk mendatangkan Dewa, kekuasaan Ilahi, semacam penemuan cara membuat bayi tabung dengan pemusatan pikiran dan sebuah mantra kunci. Anugerah mantra yang diberikan kepada Dewi Kunti tersebut nantinya akan menyelamatkan kelangsungan wangsa Kuru.
Pada masa-masa itu ilmu penggunaan “mind” telah mencapai puncaknya, lahirnya Kurawapun, merupakan hasil kloning dari segumpal daging menjadi seratus manusia. Pada zaman tersebut, senjata-senjata canggih pun dikendalikan dengan pikiran. Semakin besar kekuatan atau kekuasaan seseorang, resiko kebaikan ataupun kesalahan yang dibuatnya menjadi semakin besar.
Sebagai seorang remaja, keingintahuan Dewi Kunti teramat besar. Dewi Kunti ingin tahu keampuhan mantra yang dihadiahkan kepadanya. Dewi Kunti memperhatikan Sang Surya, dia paham bahwa semua makhluk di bumi hanya hidup berkat adanya Sang Surya. Tanpa adanya Sang Surya, semua makhluk di bumi ini akan punah. Dewi Kunti merapal mantra pemberian Resi Durwasa dan mengakses kekuatan matahari, dan dia kaget akan hasilnya, ternyata rahimnya diberkahi seorang putra dari Sang Surya.
Sebagai seorang ibu dadakan, Dewi Kunti berada dalam dilema, memilih menjaga nama baik kerajaan dan orang tuanya atau memelihara Sang Putra. Dewi Kunti mengheningkan cipta mohon petunjuk Yang Maha Kuasa. Napasnya diatur, semakin pelan napasnya, semakin pelan pula detak jantungnya, dan semakin datar gelombang otaknya. Pada waktu gelombang otaknya sudah sinkron dengan vibrasi bumi, bahkan sudah lebih tenang lagi, Dewi Kunti Berdoa kepada Yang Maha Kuasa, Sang Energi Agung: “Duh Gusti, kami telah melakukan kesalahan, kami memahami tentang hukum sebab akibat, kami akan membayar kesalahan tindakan kami ini di kemudian hari. Akan tetapi dengan tingkat kesadaran kami pada saat ini, kami mohon Gusti memberikan jalan keluar agar kami tidak merepotkan kedua orang tua kami dan juga agar kerajaan ini tidak terkena fitnah. Hamba rela memikul akibat ini sendiri, Gusti”.
Langit menjadi mendung, alam menitikkan air mata, turun hujan rintik-rintik, merasakan keharuan atas doa Dewi Kunti. Roh-roh leluhur yang masih dalam wujud energi mendekat dan terasa sebagai sapaan angin yang lembut. Air, api, angin, tanah dan ruang sebagai wujud energi unsur alami semua mendukungnya. Dalam kekhusyukannya Dewi Kunti telah selaras dengan alam semesta dan Yang Maha Kuasa memberi petunjuk, memberi pelajaran. Nenek moyang kita menggambarkan petunjuk Yang Maha Kuasa itu sebagai Maha Guru, Batara Guru, wujud energi yang tak akan nampak ketika gelombang otak manusia belum begitu sebegitu tenangnya, akan tetapi energi tersebut tetap dapat dirasakan bagi mereka yang peka.
Bila pada saat ini keluarnya bayi bisa lewat bedah sesar, maka sang bayi putra Kunti dikeluarkan lewat karna, telinga. Sang Putri melahirkan seorang putra yang sejak lahir telah mengenakan anting-anting dan baju pelindung. Dewi Kunti meletakkan bayinya di dalam keranjang, dilarung, dibiarkan mengikuti aliran Kali Gangga. Petunjuk selanjutnya dapat dirasakan lewat hati nurani Dewi Kunti:”Kau harus mempersiapkan mental dan syaraf-syarafmu, kau akan mengalami penderitaan yang luar biasa akibat tindakanmu. Akan tetapi kau tidak akan sendiri, kau akan ditemani putra-putramu dalam menyelesaikan hutang piutang karma serupa. Pakailah pikiran jernih! Bersama putra-putramu nanti pedomanilah salah seorang keponakanmu, yang menjadi titisan Batara Wisnu, dialah yang menjadi pikiran jernih dalam jiwamu.

Mengabdi kepada suami
Suami Dewi Kunti adalah Raja Pandu yang saleh. Walaupun demikian, Pandu mempunyai kelemahan, karena kesalahannya, dia dikutuk akan mati bila berhubungan suami istri dengan pasangannya. Dewi Kunti tetap tabah menerima masalah yang dihadapi, dia tahu apa yang dihadapi dalam hidup ini adalah akibat dari perbuatannya di masa lalu.
Patih Hastina Shakuni ingin adiknya Dewi Siti Gandhari menurunkan anak keturunan sebagai raja Hastina, kesempatan tersebut terbuka lebar ketika Prabu Destarastha mempersuntingnya. Karena Destarastha kakak Pandu tersebut buta, maka Pandu ditunjuk menjadi raja Hastina. Melihat Pandu yang sakit-sakitan, agar keluarganya semakin berantakan dan sakitnya semakin parah, maka Patih Shakuni menyarankan agar Pandu menikahi Dewi Madri juga. Menyadari konspirasi Shakuni, Kunti menyampaikan kepada Pandu pentingnya sang suami mempunyai putra penerus keturunan. Dewi Kunti menyampaikan pula bahwa dia mempunyai mantra hadiah Resi Durwasa untuk mendapatkan putra tanpa berhubungan suami istri.
Dengan persetujuan Pandu, Dewi Kunti mengheningkan cipta, menutup sembilan pintu gerbang pada dirinya, membayangkan Dewa Yama, kekuasaan untuk menghidup-matikan makhluk, Dewa Bayu, kekuasaan menyingkirkan kekotoran-kekotoran dunia, dan dewa Indra, kekuasaan mengelola alam. Selanjutnya, lahirlah Yudistira, Bhima dan Arjuna. Melihat kesedihan madunya Dewi Madri yang juga tidak berputra, atas persetujuan Pandu, Dewi Madri diajari merapal mantra. Yang dibayangkan Dewi Madri adalah Dewa Aswin kembar, kekuasaan untuk kemitraan dan kesetiaan, dan lahirlah Nakula dan Sadewa.
Ketika Pandu meninggal, sebagaimana tradisi pada saat itu, Dewi Kunti siap mengikuti Sang Suami untuk diperabukan. Akan tetapi, Dewi Madri, memohon penuh iba, biarlah Dewi Madri saja yang ikut diperabukan, Dewi Kunti diminta membesarkan kelima putra-putra mereka. Dewi Kunti mengheningkan cipta, menyelaraskan diri dengan getaran alam semesta. Pendapat Dewi Madri bijaksana, hutang piutang Dewi Kunti dengan Pandu dan Dewi Madri telah selesai, akan tetapi dia belum membayar akibat perbuatan yang menyengsarakan Karna, puteranya sendiri. Kunti memelihara Nakula Sadewa, putra-putra madunya dengan penuh kasih, sebab dia pun yakin bahwa Karna pun akan dipelihara orang tua asuh dengan penuh kasih juga.
Dewi Kunti menemani Pandawa, putra-putranya selama dua belas tahun di pengasingan. Bagi masyarakat dia hidup terlunta-lunta, tetapi Dewi Kunti sadar bahwa dia pun telah membuat putranya, Karna hidup terlunta-lunta. Mereka yang paham hukum sebab akibat memahami bahwa Dewi Kunti harus mengalami hal tersebut. Akan tetapi pelajaran dari Sri Krishna, sang pikiran jernih adalah bahwa segala sesuatu yang dialami manusia baik suka maupun duka adalah untuk memberikan pelajaran hidup, agar dia dapat mengembangkan jiwa, menyehatkan hati agar kekotoran yang ada dalam dirinya tercuci dan dapat kembali kepada kemurnian. Alam itu tidak pendendam tetapi penuh kasih. Sebuah lantai yang ternoda mungkin merasa menderita disikat dan digosok, akan tetapi penggosokan itu adalah untuk mengembalikan kebersihannya. Hukum sebab akibat pun bukan untuk menghukum akan tetapi untuk membersihkan kerak hutang lama.

Selalu ingat Sri Krishna
Selama perjalanan membina Pandawa, Dewi Kunti selalu ingat Sri Krishna, pikiran jernih dalam dirinya, yang terungkap di luar dirinya sebagai keponakannya, Sang Putera Prabu Basudewa. Dalam setiap doanya, dia mengucap: “Gusti, berilah putra-putraku sedikit kesengsaraan yang mampu dijalaninya, karena pada waktu sengsara mereka akan ingat Gusti”. Kesengsaraan dan permasalahan itu penting agar segera terselesaikan hutang piutang tindakan di masa lalu. Yang penting Sri Krishna, pikiran jernih selalu memandunya.
Dewi Kunti menjalani kehidupannya dengan kesederhaan. Bagi Dewi Kunti pamer kekayaan dan kedudukan, pamer kehormatan para putranya pada saat berhasil, sama dengan pamer kegiatan masa lalu. Tindakan masa lalu lah yang menjadikan keberhasilan masa kini. Yang penting adalah saat ini.
Ada pendapat dari nenek moyang bahwa orang yang teraniaya, orang yang sakit parah, sebetulnya sedang dalam proses membayar hutang tindakan di masa lampau. Sehingga wajar kalau orang yang teraniaya, orang yang menderita doanya cepat terkabul karena kekotoran dirinya mulai terbersihkan. Para leluhur kita senang “tirakat”, dengan kemauan sendiri mencicil hutang tindakan, sekaligus menguatkan daya tahan syaraf-syarafnya. Orang yang berfoya-foya syaraf-syarafnya lemah dan tidak kuat mengalami penderitaan yang terjadi akibat tindakannya di masa lalu.
Ketika pandawa di hutan di daerah negeri Eka Chakra, ada raksasa serakah Bakasura yang setiap hari minta disediakan makanan lembu se gerobak penuh dan dua buah kerbau. Setelah beberapa lama bahkan pengantarnya pun disantapnya. Ketika masyarakat bingung siapa yang akan mengantar makanan. Dewi Kunti mengatakan biarlah anaknya Bhima yang akan mengantarkan. Sulit mencari ibu yang demikian, yang rela memberikan resiko besar bagi anaknya demi penderitaan masyarakat. Dewi Kunti ingat nasehat Krishna: “Layanilah sesama manusia, cintailah sesama makhluk hidup. Dalam pelayanan dan cinta itulah kau akan menemukan Tuhan. Ia tidak berada dibalik tembok tempat ibadah.
Kunti mencintai kebenaran dan tidak suka berdusta. Ketika sayembara Drupadi telah usai, Bima dan Arjuna berteriak bahwa mereka membawa hadiah sayembara. Mendengar hal tersebut Dewi Kunti spontan berkomentar bahwa hadiah tersebut untuk bersama. Setelah dia sadar bahwa hadiahnya ternyata wanita, dia bingung, karena kata sudah terucap. Dalam kebingungannya Dewi Kunti mengheningkan cipta memohon petunjuk Yang Maha Kuasa, dan datanglah Bhagawan Abiyasa menyampaikan bahwa memang Drupadi dalam kehidupan saat ini akan mempunyai 5 suami dari putra-putranya.
Dalam perjalanannya selama dua belas tahun pengasingan, mereka sampai di Nusantara. Bhima yang membuka hutan di daerah Dieng, di mata air Kali Serayu dihalang-halangi oleh raja raksasa Harimba. Harimba di kalahkan Bhima, tetapi adiknya Harimbi jatuh hati kepada Bhima. Harimbi adalah seorang yang jujur, setia, tegas dan mempunyai kelembutan yang cocok untuk menjadi pasangan Bhima. Dewi Kunti tahu persis karakter Bima. Dewi Kunti paham bahwa Harimbi adalah putri yang tepat untuk mendampingi Bhima, agar Bhima meningkat kesadarannya. Bhima yang pada waktu itu masih dalam tingkat kesadaran fisik jelas sulit menerima Harimbi yang raksasa.
Dengan kesaktian Dewi Kunti, Harimbi diberi mantra yang pada saat ini hasilnya seperti hasil operasi plastik, dan jadilah Harimbi putri yang cantik. Operasi plastik pada wanita yang berbudi baik dengan kekurangan fisik telah dilakukan dengan sempurna. Dari rahim Harimbilah nantinya lahir cucu Dewi Kunti, Gatotkaca yang akan menjadi pahlawan Nusantara yang mendukung Pandawa dalam peperangan Bharatayudha. Sesuai perkiraan Dewi Kunti, Bhima yang menjadi pasangan Harimbi, akhirnya memahami jatidirinya, mencapai tingkat spiritual yang sangat tinggi yaitu Manunggaling Kawulo Gusti setelah bertemu Dewa Ruci.
Dalam diri putra-putri Nusantara terdapat genetik seorang ibu penuh kasih, Dewi Kunti, yang diwariskan lewat Raden Gatotkacha yang asli putra Nusantara. Potensi sudah ada dalam DNA Putra-putri Nusantara, tinggal bagaimana mengembangkannya.

Penderitaan terbesar melihat kedua putranya bertarung sampai mati
Rabindranath Tagore menggambarkan pertemuan antara Karna dan Dewi Kunti dengan suasana yang mengharukan. Di bawah ini adalah terjemahan bebas dari puisinya.
Ada pertanyaan yang muncul di benak Karna ketika sesosok wanita asing sederhana, agung dan berwibawa menghampiri dirinya saat melaksanakan dewa puja kepada Yang Maha Kuasa dalam salah satu wujud kekuasaan-Nya, Matahari yang mulai terbenam di sungai Gangga. Ada pancaran kehangatan rasa keibuan yang terpancar di wajah wanita itu.

Karna: Hamba adalah Karna, putera dari kusir Adhirata. Hamba duduk di tepi sungai Gangga yang suci ini untuk melakukan dewa puja kepada matahari yang sedang terbenam. Katakan kepada hamba, siapakah Tuan Putri?

Kunti: Aku adalah wanita yang pertama kali membuat dirimu mengenal cahaya Ilahi yang tengah kau puja itu.

Karna: Hamba tidak paham, akan tetapi sinar mata Tuan Putri begitu meluluhkan hati hamba bagaikan ciuman sinar matahari di pagi hari yang mencairkan salju di puncak gunung Himalaya, dan suara Tuan Putri memunculkan sebuah kesedihan gelap di dalam diri hamba yang nampaknya akan dapat benar-benar membuka rahasia ingatan hamba yang terdahulu. Katakan padaku, wahai Tuan Putri, misteri apakah yang menyelubungi diri Tuan Putri?

Kunti: Sabarlah, hai putraku. Aku akan menjawab pertanyaanmu ketika tabir kegelapan yang menyelubungi mata yang tersingkap. Sementara itu, ketahuilah bahwa aku adalah Kunti.

Karna: Kunti! Ibu Arjuna? Tetapi apa gerangan yang membawa Tuan Putri ke tempat ini seorang diri, wahai Ibu dari para raja?

Kunti: Aku mengidam-idamkan sebuah anugerah.

Karna: Titahkan kepadaku, dan segenap kehidupan serta kehormatanku sebagai dharma seorang ksatria akan kupersembahkan pada telapak kaki Tuan Putri.

Kunti: Aku datang untuk membawamu.

Karna: Ke mana Tuan Putri?

Kunti: Ke dadaku yang rindu akan cintamu, putraku.

Karna: Tuan Putri adalah ibu dari lima orang raja yang gagah berani, mungkinkah ada sisa ruang bagi hamba? Seorang prajurit dari keturunan sahaya?

Kunti: Ruangmu sudah ada sebelum adanya seluruh putra-putraku.

Karna: Tetapi apakah hamba mempunyai hak untuk menerimanya?

Kunti: Tuhanmu sendirilah yang memberikan hak bagi cinta kasih ibumu.

Karna: Apakah hamba di sana untuk menemukan ibuku yang telah hilang untuk selamanya?

Kunti: Oh, Putraku!

Betapa tercabik-cabiknya hati seorang ibu, melihat putranya takut menerima kenyataan bahwa ibunya adalah seorang putri bangsawan yang terhormat. Atas nasehat Sri Krishna dirinya menemui Sang Putra yang telah ditelantarkannya selama ini. Kebanggaan Dewi Kunti berkembang ketika Karna diberi gelar bangsawan dan diberikan tanah oleh Suyudana, Raja Hastina. Dewi Kunti selalu menyebut Suyudana, Yudana yang baik, tidak menyebut Duryudana, Yudana yang jahat. Dalam diri seseorang pada hakikatnya adalah baik, kekotoran terjadi akibat nafsu yang membuat penampilan diri seseorang berlepotan kekotoran.
Dengan perjuangan yang sungguh-sungguh seseorang dapat melepaskan kekotoran yang melapisi dirinya. Seseorang tidak dilihat dari kondisi saat tertentu, yang mungkin berada dalam kekotoran, tetapi proses jalan kebenaran yang sedang dia tempuh. Itulah sebabnya walau Dewi Kunti yang dicemooh bahwa hidupnya menderita akibat ulahnya sewaktu muda, tidak kecewa. Yang penting saat ini aku sudah memilih jalan yang lurus. Aku akan selalu mengingat dan mohon panduan Sri Krishna, pikiran jernih yang selalu menyertai diriku.
Ketika dua putranya Arjuna dan Karna berperang tanding mewakili dua belah pihak , Dewi Kunti menenangkan dirinya, aku telah serahkan semuanya kepada Sri Krishna. Kalau ini merupakan pembayaran karmaku, aku terima Krishna. Aku pasrah terhadap-Mu.

Ibu, telapak kaki, dibawah telapak kaki dan kasih tak berkesudahan
Kata mutiara ‘surga di bawah telapak kaki ibu’, mempunyai kaitan erat dengan makna ‘ibu’. Akan tetapi ada hal yang sering luput dari perhatian yaitu makna ‘telapak kaki’ dan makna yang ada ‘dibawah telapak kaki’ yaitu bumi. Secara tersirat pun jelas terdapat ungkapan pemahaman kasih tanpa kekerasan. Pemahaman sekelompok manusia yang mengkaitkan pemaksaan kehendak dengan jalan kekerasan dan mengkaitkannya dengan surga perlu dicermati dengan teliti.
Telapak kaki merupakan bagian tubuh paling bawah yang bersentuhan dengan bumi, dan merupakan alat untuk melangkah di atas bumi. Telapak kaki ibu melambangkan perjalanan kehidupan seorang ibu. Bagi kaum sufi makna perjalanan itu jauh lebih penting dari pada tujuan. Dengan perjalanan yang benar maka hasil akhir tujuan adalah suatu keniscayaan. Dalam perjalanan itu akan ditemui berbagai peristiwa. Peristiwa yang ditemui harus dijalani dengan kesadaran, agar tidak muncul penyebab baru yang dapat memperpanjang perjalanan. Tindakan kekerasan untuk memenuhi kebutuhan ego akan menimbulkan penyebab baru yang akan memperpanjang perjalanan.
Bumi yang berada dibawah telapak kaki adalah sumber kehidupan bagi semua makhluk yang hidup di atasnya. Sifat kasih bumi begitu tulus, begitu ikhlas, tidak mengharapkan imbalan apa pun juga dari yang dihidupinya.

Perjalanan kehidupan seorang ibu
Kehidupan sosok ibu merupakan suatu siklus, putaran roda kehidupan. Selama sembilan bulan sebagai janin, bayi tinggal tenteram dalam rahim ibunya dan segalanya telah tercukupi. Mungkin seorang ibu tidak banyak tahu mengenai teori kasih, tetapi selama sembilan bulan dia melakukan praktek mengasihi janin yang berada dalam kandungannya. Pada tahap ini sebuah janin betul-betul tergantung mutlak kepada Sang Ibu, dengan bantuan alam tentunya.
Selanjutnya, bagi anak bayi yang baru lahir, payudara ibu adalah sumber kehidupannya. Masalah apa pun yang dihadapi, saat sang bayi berada di dekat payudara ibunya, dia akan tenang kembali.
Pada tahap selanjutnya ketergantungan hidup sang bayi sudah tidak mutlak lagi tergantung pada sang ibu saja. Ketika sang Anak mulai menapakkan kakinya di bumi dan mulai berjalan, dia sudah mulai dapat memenuhi keinginannya dengan mendekati sesuatu dengan kedua kakinya. Tahap berikutnya adalah ketika seorang remaja mulai mandiri, tidak lagi tergantung kepada orang lain.
Ketika sudah matang sebagai calon ibu, seorang perawan mengikuti nalurinya untuk melestarikan jenisnya dengan berumah tangga dengan lelaki pasangannya yang dapat mengisi kekurangan pada dirinya. Proses menyatunya dua jiwa lewat hubungan jasmani merupakan peristiwa yang suci. Ketika sang mempelai perempuan berniat mempunyai keturunan dan ketika sel telurnya dibuahi sperma, maka proses berkembangnya janin, bukan lagi tugas seorang ibu. Berkembangnya satu sel induk menjadi janin, fasilitas air ketuban dan lain-lainnya menjadi urusan alam.
Dalam perkembangan hidupnya seorang anak manusia mempunyai kebutuhan dasar hampir sama dengan hewan yaitu makan, minum, seks dan tidur yang nyaman. Ketika seseorang menjadi ibu maka kasihnya tumbuh kepada sang anak, baik ketika masih berupa janin maupun anak dewasa. Kasih seorang ibu terhadap putranya berjalan searah, memberi tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan apa pun dari anaknya. Perbedaan antara manusia dan hewan adalah bahwa rasa kasih manusia bisa berkembang sehingga dia dapat mengasihi semua makhluk, sedangkan hewan mempunyai keterbatasan untuk itu.

Bumi, ibu semua makhluk yang penuh kasih
Semua makhluk yang hidup di bumi ini dipenuhi kebutuhan hidupnya dari lahir sampai mati oleh bumi. Makanan, minuman, keperluan hidup semua diperoleh dari bumi. Kasih bumi terhadap semua makhluk hidup berjalan searah. Dia tidak mengharapkan apa pun dari makhluk yang dihidupinya. Semua makhluk di atas bumi ini dipelihara kehidupannya olehnya. Bahkan napas kehidupan pun disediakan oleh bumi. Enam milyar manusia, milyaran trilyun sel makhluk hidup, trilyunan tanaman, trilyunan binatang ber sel satu sampai binatang besar semuanya dihidupi makan dan nafasnya oleh bumi. Bumi selain memberikan kehidupan juga terus berputar agar kehidupan dunia dapat berkelanjutan. Apabila bumi berhenti berputar sekejap saja, musnahlah semua makhluk yang hidup di atasnya.

Perjalanan rasa kasih manusia hingga mencapai rasa kasih abadi
Kasih seorang ibu dapat berkembang dalam diri setiap orang untuk mengasihi putranya dan meningkat hingga mengasihi semua makhluk. Kasih seorang ibu dalam diri setiap manusia dapat berkembang untuk mengasihi karyanya, mengasihi tindakannya dan meningkat hingga mengasihi karya semua makhluk. Ketika manusia mengasihi semua makhluk seperti tindakan penuh kasih bumi terhadap semua makhluk, maka pada saat demikian seseorang sudah selaras dengan alam, jiwanya menyatu dengan alam semesta. Hanya apabila manusia dapat memberikan kasih tanpa pamrih dapat dikatakan selaras dengan alam semesta. Keselarasan dengan alam semesta akan mendekatkan diri kepada Ilahi, Bunda Alam Semesta.
Ibu Kunti adalah contoh teladan seorang ibu yang penuh kasih terhadap putra-putranya, terhadap sesama manusia dan terhadap semua makhluk. Potensi Ibu Kunti berada dalam setiap diri setiap manusia Indonesia. Semoga kita semua dapat mengembangkannya. Terima kasih Guru.

About Rachel

I am who I am

Posted on November 22, 2010, in Mahabharata, Wayang and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: