Mahabharata 17 – Prasthanikaparwa

Prasthanikaparwa

Kitab Prasthanikaparwa merupakan kitab ketujuh belas dari seri Astadasaparwa.

Setelah Dinasti Yadu musnah, meninggalnya BalaRama dan Krishna serta tenggelamnya kota Dwaraka Arjuna menemui kakeknya, yaitu Resi Byasa menceritakan semua yang terjadi. Byasa menyatakan bahwa tugas-tugas mereka telah berjalan dengan baik. Semua ada waktunya dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk menarik diri dari segalanya. Atas nasihat beliau, para Pandawa serta Dropadi memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi melakukan perjalanan spritual melepas jiwa dengan Yoga

Kitab ini menceritakan kisah Pandawa dan Dropadi yang mengundurkan diri dari pemerintahan dan menjauhkan diri dari kehidupan duniawi. Mereka menyerahkan tahta kepada Parikesit, satu-satunya keturunan mereka yang selamat dari perang Bharatayuddha. Para Pandawa beserta Dropadi kemudian menjalankan puasa, menyiapkan tekad, menghadap ke timur melakukan Yoga, menutup semua Indera mencapai keheningnan kemudian dengan jiwa mereka melakukan perjalanan suci. Mereka berjalan secara berurutan yang di pimpin oleh Yudistira hingga terakhir Droupadi melesat melewati banyak negara, sungai dan Laut. Ketika melewati di sebuah Hutan, muncul jiwa seekor anjing yang ikut berjalan mengikuti bersama mereka.

Sampailah mereka di laut dengan air berwarna merah. Kemudian mereka dihadang oleh Dewa yang sangat besar, yaitu Agni pemilik 7 Api. Ia meminta Arjuna agar senjata Gandiwa beserta tabung anak panahnya yang tak pernah habis dikembalikan kepada Baruna, sebab tugas Nara sebagai Arjuna sudah berakhir di zaman Dwaparayuga tersebut. Dengan berat hati, Arjuna melemparkan senjata saktinya ke lautan, ke kediaman Baruna. Setelah itu, Agni lenyap dari hadapannya dan para Pandawa menghadap selatan hingga mencapai pesisir utara laut asin berbelok ke Barat daya melihat kota Dwaraka yang telah ditutupi lautan, berbelok ke Utara mereka melanjutkan perjalanan, menjalankan Yoga mengelilingi seluruh Bumi

Mereka melanjutkan ke utara menuju Himavat, sebuah gunung yang sangat besar, melewati Himawat melewati Gurun pasir dan mereka melihat MahaMeru (Sumeru), Droupadi terlepas mengalami kegagalan berYoga dan jatuh ke Bumi. Dengan memegang Droupadi Bima bertanya kepada Yudistira, ’ Kita berlima masih kuat untuk berjalan, lalu mengapa Drupadi dapat Drupadi Jatuh? Mengapa Ia tidak bisa melnjutkan perjalanan dengan kita?’. Yudistira menjawab, ‘Bima, wanita yang benar-benar suci harusnya tertarik hanya kepada suaminya saja. Ia tidak boleh tertarik pada orang lain. Drupadi mempunyai Lima orang Suami. Seharusnya membagi cintanya kepada suami-suaminya. Kalau ia benarlah sayang kepada semua suaminya, saya yakin ia tidak akan terjatuh demikian. Ia lebih tertarik kepada arjuna, itu sebabnya ia terjatuh’. Arjuna memang sangat terkenal di masyarakat dan sangat menarik. Drupadi sering berpikir,’ Aku ini suami Arjuna padahal ia sebenarnya istri pandawa lima.

Meninggalkan Droupadi, mereka berjalan kembali. Kemudian Sahadewa jatuh, Bima bertanya kepada Yudistira mengapa Ia bisah jatuh, Yudistira menjawab, ‘Ia membanggakan kebijakan dirinya tidak ada orang yang dapat menandingi dirinya, untuk itulah ia gagal dalam perjalanan ini”

Kemudian diperjalanan Nakula terjatuh ke tanah, Bima bertanya kepada Yudistira, “Kakakku, adik kita ini sangat rajin dan penurut. Ia juga sangat tampan dan tidak ada yang menandinginya. Mengapa ia meninggal sampai di sini?”. Yudistira yang bijaksana menjawab, “Memang benar bahwa ia sangat rajin dan senang menjalankan perintah kita. Namun ketahuilah, bahwa Nakula sangat membanggakan ketampanan yang dimilikinya, dan tidak mau mengalah. Karena sikapnya tersebut, ia hanya dapat berjalan hingga sampai di sini”. Setelah mendengar penjelasan Yudistira, maka Bima dan Arjuna melanjutkan perjalanan mereka.

Kemudian Arjuna Jatuh, Bima bertanya, ‘mengapa Arjuna yang selalu berbicara benar bahkan berolok-olok-pun tidak Ia lakukan namun tak dapat melanjutkan perjalanan bersama kita?’ Yudistira menjawab, ‘Ia pernah mengucapkan akan membasmi seluruh lawan hanya dalam satu hari namun tidak dapat dilakukannya Bukan itu yang membuatnya terjatuh namun Bangga akan tindakannya dan meremehkan orang lainnya’

Kemudian Bima Jatuh, dan Ia bertanya mengapa ia sampai terjatuh. Yudistira menjawab bahwa Ia makan banyak untuk meningkatkan kekuatan, bukan itu yang membuatnya jatuh, namun tidak memperhatikan kebutuhan orang lainnya saat makan itu yang membuatnya jatuh

Yudistira dengan ditemani seekor Anjing melanjutkan perjalanannya. Kemudian Dewa Indra (Sakra), sang pemilik ribuan mata yang membuat langit dipenuhi guruh menghampiri Yudistira dengan kendaraannya mengajaknya untuk naik bersamanya. Yudistira menolak meninggalkan semua Saudaranya untuk mencapai Surga. Sakra kemudian berkata, ’Engkau memang harus ditemani saudaramu di Surga, mereka telah sampai duluan daripadamu. Mereka telah sampai disana tanpa jasad mereka, namun engkau dapat mencapainya bersama dengan jasadmu ini’ .

Yudistira kemudian bertanya, ‘Bagaimana dengan Anjing ini, Ia telah menemaniku dalam perjalanan ini?’ Indra menyatakan agar meninggalkan di sana, namun Yudistira tidak mau meninggalkan Anjing itu demi mendapatkan Surga. Indra mengatakan bahwa Surga adalah bagi mereka yang berpahala dan bukankah Yudistira telah meninggal adik2 dan Istrinya di tengah perjalanan jadi mengapa harus bersikukuh hendak membawa anjing itu dan tidak meninggalkannya. Yudistira menjawab bahwa mereka ditinggalkan karena terjatuh dan Ia tidak dapat membawanya serta, namun anjing ini masih hidup dan bersamaku mencapai tempat ini, itulah mengapa Ia tidak mau meninggalkannya.

Kemudian Anjing itu berubah bentuk menjadi Dewa Dharma yang merasa puas dengan ucapan Yudistira, kemudian mereka bersama Indra dan diiringi semua Dewa-dewa menuju Surga.

Versi Jawa

kematian para Pandawa terjadi bersamaan dengan Kresna ketika mereka bermeditasi di dalam Candi Sekar. Namun, versi ini kurang begitu populer karena banyak dalang yang lebih suka mementaskan versi MahaBharata yang penuh dramatisasi sebagaimana dikisahkan di atas.

________________________________________

 

About Rachel

I am who I am

Posted on November 22, 2010, in Mahabharata, Wayang and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: