Mahabharata 18 – Swargarohanaparwa

Swargarohanaparwa

Kitab Swargarohanaparwa merupakan kitab kedelapan belas dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan akhir kisah perjalanan suci yang dilakukan oleh Pandawa. Sesampainya di surga, Yudistira terkejut karena tidak menemukan saudara-saudaranya melainkan mendapati bahwa Duryodana beserta sekutunya yang jahat kecuali Karna ada di sana. Sang Dewa mengatakan bahwa mereka bisa berada di surga karena mereka telah melakukan dharma mereka sebagai Kstaria yaitu berperang dan gugur dalam peperangan di Kurukshetra. Lantas Yudistira menanyakan dimana tempat para ksatria-ksatria lainnya yang berada di pihak mereka yang juga melakukan Dharmanya dan gugur di peperangan Kurukshetra. Ia pun menyatakan bahwa Ia ingin segera bertemu mereka.

Dewa kemudian menemani Yudistira menemui mereka. Ia melalui jalan yang buruk, bau, berdarah, bernanah banyak mayat dan banyak yang mengalami siksaan dirajam, ditusuk2 di rebus dalam air yang mendidih yang di iringi oleh teriakan2 kesakitan karena sengsaraan yang dialami sehingga tidak dapat lagi dikenali ragamnya. Karena ingin tahu siapa saja mereka-mereka itu dan mengapa ada disitu ia bertanya, ’Siapa kalian dan mengapa ada di sini?’. Mereka menjawab dari berbagai tempat, ‘Saya Karna!’ ‘Saya Bhimasena!’ ‘Saya Arjuna!’ ‘Saya Nakula!’ ‘Saya Sahadeva!’ ‘Saya Dhrishtadyumna!’ ‘Saya Draupadi!’ ‘Kami anak-anak Draupadi!’

Mendengar itu, Yudistira bertanya dalam hatinya, ‘Inikah akhir takdir? Apa dosa yang dilakukan oleh mereka sehingga pantas mendapatkan ini. Apa prilaku yang dilakukan oleh anak2 Dhristarasta dengan semua dosa yang dilakukan namun justru mendapatkan surga, padahal semua jiwa-jiwa lurus ini melakukan semua tugasnya, mematuhi kebenaran dan apa yang dikatakan Veda, melakukan prilaku Ksatria, berperilaku benar, melakukan kurban, memberikan dana pada para Brahmana. Apakah aku ini sedang bermimpi atau tidak? Apakah aku sedang tersadar atau tidak? Apakah aku mengalami ilusi mental akibat kekacauan pikiran?’. Kemudian ia berkata kepada Dewa yang menemaninya, ‘Kembalilah ke tempatmu, aku akan menetap disini tidak di sana’

belum ada sebentaran Yudistira di sana, Datanglah para Dewa dengan segala kegemerlapannya dan mengubah tempat itu dari tempat yang penuh dengan siksaan itu tiba-tiba berubah tidak ada lagi menjadi gemerlap bersinar dan dipenuhi dengan kebahagian kegemerlapan pula. Indra kemudian berkata pada Yudistira, ‘Kemarilah, Hai manusianya manusia, ilusi ini berakhir sudah, engkau berhasil melewatinya, dengarlah, bahwa kebaikan dan kejahatan itu melimpah. Ia yang akan menikmati surga akan mengalami buah nerakanya terlebih dahulu dan sebaliknya sebaliknya Ia yang akan ditempatkan di Neraka menikmati buah Surganya terlebih dahulu. Itu pula yang terjadi padamu Oh Yudistira, sebagai hukuman ketiak engkau juga ikut menipu Drona mengatakan bahwa anaknya meninggal di pertempuran Kurukshetra sebagai konsekuensi dari tipuan itu engkau pun diperlihatkan keadaan neraka atas kerabatmu dan surga atas lawan2mu di bumi, penderitaan itu telah kau lalui walaupun sebentar saja sebagai balasan atas tipuan yang engkau lakukan. Bima, arjuna dan yang lainnya mengalami keadaan yang diterima akibat perbuatan mereka dan telah dibersihkan pula dosa-dosanya dan telah berada di Surga saat ini.

Ternyata itu juga merupakan test dari Dewa Dharma kepaa Yudistira, yaitu ketika di danau dan diberikan beberapa pertanyaan oleh Yaksa dan diminta untuk menghidupkan salah satu dari 4 saudara2nya dan Ia berhasil menjawab pertanyaa2 Yaksa dan meminta agar Nakula yang di hidupkan, Kemudian yang kedua saat bersama Anjing menuju surga dan yang ketiga ketika lebih memilih neraka dari pada Surga dan tidak meninggalkan saudara2nya yang mengalami siksaan.

Kemudian para Dewa, leluhur, Brahmana mandi bersama mensucikan diri di sungai yang ada di surga yaitu Gangga dan menuju surga melihat semua pahlawan2 suci disana, diantarannya Govinda (krishna) dengan rupa Brahmanya, karna dengan gemerlap sinar Dewa Surya, Bima bersanding bersama Vayu, Nakula sadewa denan Aswin dengan segala kegemerlapannya, Droupadi dengan kegemerlapannya, anak-anaknya yang merupakan penjelmaan Gandharva kembali kewujudnya dengan kegermerlapannya, Dhritarashtra, raja para Gandharvas, Satyaki, anak Subadra bersama Soma, Pandu, bersatu dengan Kunti dan Madri, Bhishma ditengah-tengan para Wasu, Drona dan semua yang berperang telah menerima jasanya

Janamejaya (anak dari Parikesit) yang diceritakan kisah MahaBharata ini bertanya, “Bhishma, Drona, Dhritarashtra, Drupada, Uttara, anak2 Duryodhana, Sakuni, anak-anak Karna, Jayadratha, Ghatotkaca and semua yang belum disebut berapa lama mereka ada di Surga?”

Vaishampayana berkata, “Bhishma mencapai status Vasu, Drona kembali ke Brihaspati, Kritavarma kembali ke Maruts. Pradyumna kembali ke Sanatkumara. Dhritarashtra, Gandari kembali kepenguasa harta. Pandu, Kunti dan Madri di kediaman Indra. Wirata, Drupada, Raja Dhrishtaketu, Nishatha, Akrura, Samva, Bhanukampa, Viduratha, Bhurishrava, Sala king Bhuri, Kansa, Ugrasena, Vasudeva (ayah Krishna), Uttara, Sankha kembali menjadi dewas. Anak Soma, Varchas yang menjadi Abhimanyu kembali pada Soma. Karna kembali ke Surya. Shakuni kembali ke Dwapara, Dhrishtadyumna kembali ke Agni. Anak-anak Dhritarashtra yang semuanya Rakshasa memperoleh Surga. Yudhishthira kembali ke Dewa Dharma, Baladewa kembali ke Ananta (Naga) kembali ke bawah Bumi menjaga Bumi. Krishna merupakan percikan dari Narayana yang Abadi kembali pada Narayana. 16,000 istrinya nanti pada saatnya kembali ke Saraswati menjadi para bidadari. Ghatotkaca dan lainnya yang berasal dari Yakshas, Indra, varuna, Kuwera.

Sauti berkata ‘Kisah ini merupakan Sejarah yang kemudian dinamakan MahaBharata. Vyasa membuat kompilasi kisah ini sebanyak 3.000.000 di letakan di lingkungan para Deva, 1/2nya dilingkungan para Leluhur, di lingkungan para Yaksha 1.400.000 kompilasi, 1.000.000 di lingkungan para manusia. Narada menceritakan MahaBharata pada para Dewa, Asita-Devala kepada para Leluhur, Suka kepada para Rakshasa, Yaksha, Dan Vaishampayana kepada para manusia.

Mereka yang mendengar dan membawakan kisah ini menerima ganjaran Surga selama 21.000 tahun Dewa lamanya (Jutaan tahun manusia)

About Rachel

I am who I am

Posted on November 22, 2010, in Mahabharata, Wayang and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: