Mahabharata 3 – Wanaparwa

Wanaparwa

Kitab Wanaparwa merupakan kitab ketiga dari seri Astadasaparwa. Kitab Wanaparwa menceritakan kisah pengalaman para Pandawa bersama Dropadi di tengah hutan.

Yudistira yang merasa paling bertanggung jawab atas apa yang menimpa keluarga dan negaranya berusaha untuk tetap tabah dalam menjalani hukuman. Ia sering berselisih paham dengan Bima yang ingin kembali ke Hastinapura untuk menumpas para Korawa. Meskipun demikian, Bima tetap tunduk dan patuh terhadap perintah Yudistira supaya menjalani hukuman sesuai perjanjian.

Krisna, Dhrishtadyumna dan para kerabat wangsanya datang menjenguk mereka di hutan Kamyaka. Melihat Krisna, Droupadi menangis dan menceritakan penghinaan yang diterimanya. Saat itulah Krisna bersumpah bahwa siapapun yang terlibat dipenghinaan itu akan menerima ganjarannya secara berdarah-darah dan ia akan membantu Pandawa setiap harinya

Dhrishtadyumna menambahkan,’Aku akan membunuh Drona, Srikandi akan membunuh Bisma, Bhima akan membunuh Duryodana, Dursasana dan adik-adiknya, Arjuna akan membunuh karna si anak kusir itu!’

Pandawa juga bertemu dengan Rsi Byasa, seorang guru rohani yang mengajarkan ajaran-ajaran Hindu kepada Pandawa dan Dropadi, istri mereka. Atas saran Rsi Byasa, Arjuna bertapa di gunung Himalaya agar memperoleh senjata sakti yang kelak digunakan dalam Bharatayuddha. Kisah Sang Arjuna yang sedang menjalani masa bertapa di gunung Himalaya menjadi inspirasi untuk menulis Kakawin Arjuna Wiwaha.

Arjuna memilih lokasi bertapa di gunung Indrakila. Dalam usahanya, ia diuji oleh tujuh bidadari yang dipimpin oleh Supraba, namun keteguhan hati Arjuna mampu melawan berbagai godaan yang diberikan oleh para bidadari. Para bidadari yang kesal kembali ke kahyangan, dan melaporkan kegagalan mereka kepada Dewa Indra. Setelah mendengarkan laporan para bidadari, Indra turun di tempat Arjuna bertapa sambil menyamar sebagai seorang pendeta. Dia bertanya kepada Arjuna, mengenai tujuannya melakukan tapa di gunung Indrakila. Arjuna menjawab bahwa ia bertapa demi memperoleh kekuatan untuk mengurangi penderitaan rakyat, serta untuk menaklukkan musuh-musuhnya, terutama para Korawa yang selalu bersikap jahat terhadap para Pandawa. Setelah mendengar penjelasan dari Arjuna, Indra menampakkan wujudnya yang sebenarnya. Dia memberikan anugerah kepada Arjuna berupa senjata sakti.

Setelah mendapat anugerah dari Indra, Arjuna memperkuat tapanya ke hadapan Siwa. Siwa yang terkesan dengan tapa Arjuna kemudian mengirimkan seekor babi hutan berukuran besar. Ia menyeruduk gunung Indrakila hingga bergetar. Hal tersebut membuat Arjuna terbangun dari tapanya. Karena ia melihat seekor babi hutan sedang mengganggu tapanya, maka ia segera melepaskan anak panahnya untuk membunuh babi tersebut. Di saat yang bersamaan, Siwa datang dan menyamar sebagai pemburu, turut melepaskan anak panah ke arah babi hutan yang dipanah oleh Arjuna. Karena kesaktian Sang Dewa, kedua anak panah yang menancap di tubuh babi hutan itu menjadi satu.

Pertengkaran hebat terjadi antara Arjuna dan Siwa yang menyamar menjadi pemburu. Mereka sama-sama mengaku telah membunuh babi hutan siluman, namun hanya satu anak panah saja yang menancap, bukan dua. Maka dari itu, Arjuna berpikir bahwa si pemburu telah mengklaim sesuatu yang sebenarnya menjadi hak Arjuna. Setelah adu mulut, mereka berdua berkelahi. Saat Arjuna menujukan serangannya kepada si pemburu, tiba-tiba orang itu menghilang dan berubah menjadi Siwa. Arjuna meminta ma’af kepada Sang Dewa karena ia telah berani melakukan tantangan. Siwa tidak marah kepada Arjuna, justru sebaliknya ia merasa kagum. Atas keberaniannya, Siwa memberi anugerah berupa panah sakti bernama “Pasupati”.

Setelah menerima anugerah tersebut, Arjuna dijemput oleh para penghuni kahyangan untuk menuju kediaman Indra, raja para dewa. Di sana Arjuna menghabiskan waktu selama beberapa tahun. Di sana pula Arjuna bertemu dengan bidadari Urwasi. Karena Arjuna tidak mau menikahi bidadari Urwasi, maka Urwasi mengutuk Arjuna agar menjadi banci.

Suatu ketika para Korawa datang ke dalam hutan untuk berpesta demi menyiksa perasaan para Pandawa. Namun, mereka justru berselisih dengan kaum Gandharwa yang dipimpin Citrasena. Dalam peristiwa itu Duryodana tertangkap oleh Citrasena. Akan tetapi, Yudistira justru mengirim Bima dan Arjuna untuk menolong Duryodana. Ia mengancam akan berangkat sendiri apabila kedua adiknya itu menolak perintah. Akhirnya kedua Pandawa itu berhasil membebaskan Duryodana. Niat Duryodana datang ke hutan untuk menyiksa perasaan para Pandawa justru berakhir dengan rasa malu luar biasa yang ia rasakan.

Bukan Cuma itu saja, para Brahmana banyak berkunjung dan memberikan wejangan selama 12 tahun ini, ada Brahmana Lomasa, Maitreya, markandeya dll.

Dikisahkan juga bahwa sejak awal mereka menjalani pembuangan di Hutan,

Pandawa mendapat anugerah dari Dewa Surya yaitu kendaraan Akshayapatra yang selalu membawa makanan yang lebih dari cukup untuk mereka dan para tamu mereka di setiap harinya

Peristiwa lain yang terjadi adalah penculikan Dropadi oleh Jayadrata, adik ipar Duryodana. Bima dan Arjuna berhasil menangkap Jayadrata dan hampir saja membunuhnya. Yudistira muncul dan memaafkan raja kerajaan Sindu tersebut.

Peristiwa lainnya, adalah ketika Droupadi menemukan bunga yang sangat harum dan meminta Bhima untuk mencarikan bunga tersebut untuk ditanam. Bhima pergi mencari hingga sampailah ia di kaki suatu gunung dan ia melihat seekor kera besar bersinar-sinar berbaring tidur menghalangi jalannya. Ia coba mengusirnya dengan berteriak-teriak agar mahluk itu takut. Mahluk itu hanya membuka sebelah matanya dengan malasnya dan berkata, ‘aku lagi kurang nyaman makanya aku tidur disini mengapa engkau membangunkanku, Engkau adalah manusia bijaksana dan aku hanya binatang, seharusnya manusia yang rasional berbelas kasih pada bnatang sepertiku. Aku khawatir engkau ini tidak mengindahkan mana kebenaran dan kejahatan. Siapa kamu? Ngga mungkin engkau melanjutkan perjalanan lebih lanjut lagi, karena ini merupakan jalan dewa2, manusia ngga boleh melewati batas ini. Makan saja buah2 yang ada disini sesukamu dan pergilah dengan damai.

Bhima yang tidak biasa dianggap enteng menjadi marah dan berteriak,’Lho kamu ini siapa, kamu ini hanyalah kera namun sok berbicara tinggi, aku adalah Ksatriya, pahlawan keturuna Kuru dan anak dari Kunti. Aku adalah anak dari Deva Vayu, Ayo menyingkir!’. Mendengar ini, kera itu hanya tertawa dan berkata ‘Saya ini hanya kera, namun engkau akan mengalami kehancuran apabila memaksa jalan terus’. Bima berkata,’ itu bukan urusanmu, menyingkirlah atau aku singkirkan engkau!’. Kera itu berkata,’Aku tidak punya kekuatan untuk berdiri, jika engkau bersikeras untuk terus untuk pergi, lompati saja aku’ Bima berkata,’Ya itu sih mudah, namun kitab suci melarang iu, kecuali aku melompatimu dan gunung dalam satu lompatan seperti yang dilakukan Hanuman menyebrangi lautan. Kera itu berkata,’ Siapa Hanuman yang menyebrangi Lautan itu, ceritakanlah cerita itu padaku’.

Bima berkata ‘Belum pernah dengar Hanuman? Ia adalah kakak ku, yang dengan loncatanya menyebrangi lautan untuk mencari Sita istri Rama, Aku setara dengannya dalam hal kekuatan dan Kegagahan. Ah sudah cukup berbicara, ayo menyingkirlah dan memberi jalan, jangan memprovokasiku untuk menyakitimu. Kera itu berkata,’ Ah orang gagah, bersabarlah, lembutlah karena engkau kuat, berbelas kasihlah pada yang lemah dan tua. Aku tak berkekuatan untuk berdiri, karena kitab mu melarang untuk melompatiku, ya sudah singkirkan saja ekorku ini agar engkau dapat melanjutkan perjalanan’.

Bangga dengan kekuatannya, Ia pikir dapat dengan mudahnya menarik ekor Kera itu ke sisi jalan, namun ternyata hingga ia menggunakan seluruh kekuatannya ekor itu tidak bergerak sama sekali kemudian dengan malu ia berkata,’Maafkan aku, Apakah engkau adalah orang sakti, Gandharva atau Dewa?’ Hanuman berkata,’ Oh Pandava, Aku adalah kakakmu yang engkau sebut tadi, jika engkau melewati jalan yang merupakan jalan menuju dunia fana dimana Yaksha dan raksasa tinggal, engkau akan menghadapi bahaya dan itulah sebabnya aku menghalangimu. Tidak ada manusia yang dapat melewati jalan ini dan tetap hidup, namun di bawah sana ada aliran sungai dimana engkau akan temukan bunga saugandhika yang engkau cari itu’.

Bima menjawab dengan senangnya,’ Aku termasuk orang yang beruntung bertemu dengan mu, Kakak Ku, Aku memohon dapat melihat wujud-Mu saat engkau melompati lautan itu dan ia bersujud dihadapan hanuman’. Hanuman tersenyum dan mulai membesarkan ukuran tubuhnya yang berdiri kokoh seperti gunung dan terlihat menutupi seluruh area. Bhima gemetar melihat wujud Dewa dari kakaknya itu, tak dapat lagi ia membuka mata, silau oleh radiasi sinar yang menyilaukan dari tubuh kakaknya itu. Hanuman berkata,’dihadapan musuhku, tubuhku dapat membesar lebih dan lebih lagi’. Kemudian ia menyusutkan kembali tubuhnya di ukuran asalnya dan ia dengan lembut merangkul Bhima.

Bhagawan Vyasa berkata,’ Bhima kemudian sepenuhnya segar dan bertambah kuat lagi setelah dirangkul oleh Hanuman’. Hanuman berkata, ‘Orang gagah, kembalilah dan pikiran aku ketika engkau membutuhkan bantuanku, aku sesenangmu ketika aku menyentuh tubuh Sri Rama, Deva-Ku, mintalah sesuatu berkat yang engkau inginkan’. Bhima berkata, ‘berilah berkat pada pandawa agar dapat menaklukan musuh2nya’. Hanuman memberikan berkat dan berkata,’Teriakanmu bagaikan Singa di medan pertempuran, suaraku akan berada di suaramu dan memberikan teror ketakukan di hati setiap musuhmu. Aku akan hadir di bendera yang ada dikereta Arjuna, Engkau akan memperoleh kemenangan. Itu adalah jalur ke sungai terdekat dimana tumbuh bunga Saugandhika’ Bhim segera ingat bahwa Droupadi menunggu kepulangannya dan segera mengambil bunga2 itu untuknya.

Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan 12 tahun, Yudistira dan keempat adiknya membantu seorang brahmana yang kehilangan peralatan upacaranya karena tersangkut pada tanduk seekor rusa liar. Dalam pengejaran terhadap rusa itu, kelima Pandawa merasa haus. Yudistira pun menyuruh Sadewa mencari air minum. Karena lama tidak kembali, Nakula disuruh menyusul, kemudian Arjuna, lalu akhirnya Bima menyusul pula. Yudistira semakin cemas karena keempat adiknya tidak ada yang kembali.

Yudistira kemudian berangkat menyusul Pandawa dan menjumpai mereka telah tewas di tepi sebuah telaga. Muncul seorang raksasa yang mengaku sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat Pandawa tewas keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab pertanyaan sang raksasa. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan Sang Raksasa untuk bertanya. Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan berhasil ia jawab. Akhirnya, Sang Raksasa pun mengaku kalah, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali. Raksasa heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, yaitu Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudistira lahir dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup kembali harus putera yang lahir dari Madri, yaitu Nakula.

Raksasa terkesan pada keadilan Yudistira. Ia pun kembali ke wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma. Kedatangannya dengan menyamar sebagai rusa liar dan raksasa adalah untuk memberikan ujian kepada para Pandawa. Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira, maka tidak hanya Nakula yang dihidupkan kembali, melainkan juga Bima, Arjuna, dan Sadewa.

________________________________________

 

About Rachel

I am who I am

Posted on November 22, 2010, in Mahabharata, Wayang and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: