Mahabharata 8 – Karnaparwa

Karnaparwa

Kitab Karnaparwa merupakan kitab kedelapan dari seri Astadasaparwa. Kitab ini menceritakan kisah diangkatnya Karna sebagai panglima perang pasukan Korawa, menggantikan Bagawan Drona yang telah gugur. Setelah Abimanyu dan Gatotkaca gugur, Arjuna dan Bima mengamuk. Mereka banyak membantai pasukan Korawa. Dalam kitab ini diceritakan bahwa Bima berhasil membunuh Dursasana dan merobek dadanya untuk meminum darahnya. Kemudian Bima membawa darah Dursasana kepada Dropadi. Dropadi mengoleskan darah tersebut pada rambutnya, sebagai tanda bahwa dendamnya terbalas. Kemattian Dursasana mengguncang perasaan Duryodana. Ia sangat sedih telah kehilangan saudaranya yang tercinta tersebut. Semenjak itu ia bersumpah akan membunuh Bima.

Untuk mengimbangi Arjuna yang mempunyai Krisna sebagai kusir kereta maka Karna meminta Salya bertindak sebagai kusir keretanya. Salya, Raja Madra, menjadi kusir kereta Karna. Kemudian terjadi pertengkaran antara Salya dengan Karna.

Versi Jawa

Menurut cerita pedalangan Yogyakarta ia tewas dalam kisah Bratayuda babak 5 lakon Timpalan / Burisrawa Gugur atau lakon Jambakan / Dursasana Gugur. Menurut tradisi Jawa ia berkediaman di wilayah Banjarjungut, peninggalan mertuanya.

Pertengkaran yang terjadi karena Salya selaku mertua Karna merasa diperlakukan dengan kurang sopan. Namun Karna berhasil menghibur kemarahan mertuanya itu dengan mengatakan bahwa derajat Salya justru disejajarkan dengan Kresna yang menjadi kusir Arjuna. Adapun Kresna merupakan raja agung, titisan Batara Wisnu.

Hari ke-16, Karna berhasil mengalahkan Yudistira, Bimasena, Nakula, dan Sadewa, namun tidak sampai membunuh mereka sesuai janjinya di hadapan Kunti dulu. Karna kemudian bertanding melawan Arjuna. Keduanya saling berusaha membunuh satu sama lain.

Ketika panah Karna melesat menuju kepala Arjuna, Kresna menekan kereta Arjuna ke dalam tanah dengan kekuatan saktinya sehingga panah Karna meleset beberapa inci dari kepala Arjuna.

Versi Jawa

Ketika Karna mengincer leher Arjuna menggunakan panah Badal Tulak, diam-diam Salya memberi isyarat pada Kresna. Kresna pun menggerakkan keretanya sehingga panah Badal Tulak meleset hanya mengenai rambut Arjuna.

Pertempuran tersebut akhirnya tertunda oleh terbenamnya matahari.

Hari ke-17, perang tanding antara Karna dan Arjuna dilanjutkan kembali. Setelah bertempur dalam waktu yang cukup lama, akhirnya kutukan Parasurama menjadi kenyataan. Karna tiba-tiba lupa terhadap semua ilmu yang diajarkan gurunya tersebut. Kutukan kedua terjadi pula. Salah satu roda kereta Karna tiba-tiba terbenam ke dalam lumpur. Ia pun turun ke tanah untuk mendorong keretanya itu Ia minta Salya membantunya tapi kusir keretanya itu menolak untuk mendorong dan membantunya. Karna turun tangan sendiria untuk mengangkat kembali keretanya yang terperosok.

Arjuna membidiknya menggunakan panah Pasupati. Karena mematuhi etika peperangan, Arjuna menghentikan penyerangannya bila kereta Karna belum berhasil diangkat. Kresna mendesak agar Arjuna segera membunuh Karna karena ini merupakan satu-satunya kesempatan. Karna meminta Arjuna menaati peraturan karena saat itu dirinya sedang berada di bawah kereta, dan dalam keadaan tanpa senjata.

Kresna membantah kata-kata Karna. Menurutnya, Karna lebih sering berbuat curang daripada Arjuna dalam peperangan, seperti misalnya saat ia ikut serta mengeroyok Abimanyu, ataupun membunuh Gatotkaca pada malam hari. Kresna kembali mendesak Arjuna untuk bertindak dengan cepat. Arjuna pun melepaskan panah Pasupati yang segera melesat memenggal leher Karna. Kutukan ketiga menjadi kenyataan, Karna tewas dalam keadaan lengah tanpa memegang senjata.

Versi Jawa

Setelah kematian Karna, keris pusakanya yang bernama Kaladite melesat sendiri menyerang Arjuna. Arjuna menangkisnya menggunakan keris Kalanadah. Kedua pusaka itu pun musnah bersamaan. Arjuna kemudian mendekati mayat Karna untuk memberikan penghormatan terakhir. Surtikanti datang ke medan perang dengan diantar oleh Adirata. Melihat suaminya tewas, Surtikanti melakukan bela pati dengan menikam dadanya sendiri menggunakan keris. Melihat menantunya tewas bunuh diri, Adirata marah dan berteriak menantang Arjuna. Bimasena muncul menghardik Adirata. Adirata ketakutan dan melarikan diri, namun ia terjatuh dan meninggal dunia.

________________________________________

 

About Rachel

I am who I am

Posted on November 22, 2010, in Mahabharata, Wayang and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: