Legenda Sendang Bima Lukar dan Kali Serayu

Budiyono AF Infonet – Kurang lebih 20 km di sebelah utara Kota Wonosobo, di daerah Dataran tinggi Dieng terdapatlah sumber air, sebagai mata air sungai Serayu. Sumber itu di sebut tuk Bima Lukar. Kata Mbah Sahibul Hikayat legenda masyarakat tentang sumber mata air tersebut adalah Sebagai Berikut :

Pada suatu ketika, Guru Drona, yaitu gurunya Pandawa dan Kurawa mengadakan ujian terhadap murid murid nya tersebut. Ujian itu adalah perlombaan membuat sungai untuk pengairan sawah sawah,siapa yg menang akan mendapatkan hadiah. Kurawa yg berjumlah 100 orang membuat lebih dahulu,Pandawa masih enak2. Sesudahnya Pandawa mulai mengetahui kalau Kurawa sudah mulai membuat sungai, Pandawa baru mengadakan pembicaraan. Keputusanya, Pandawa akan mulai membuat sungai dari dieng. Caranya dhokar Bima dipegangi oleh Semar, Bima yang narik Semar yang memegangi dhokar Bima tersebut. pada waktu itu Bima melepas pakaianya (lukar) terus kencing.air kencing tersebut kemudian menjadi tuk ( sumber mata air ) Bima lukar. Bima menarik Semar yang memegangi dhokar Bima sampai ke laut selatan.maka terjadilah sebuah sungai yg disebut kali Lawang atau kali Serayu.sedang Kurawa yang berhasil kali Tulis yang menjadi sumber mata air kali Bogowonto.

Cerita lain mengatakan:

Pada suatu ketika pandawa sedang pergi ke Dieng untuk membangun Candi tempat pemujaan. di tengah perjalanan, Bima,salah seorang Pandawa merasa hendak turas ( kencing ), maka dia berhenti untuk kencing.Aneh, Air kencng itu kemudian menjadi sebuah sumber mata air yang berupa sendang.airnya sangat jernih di tempat yg indah. Pada suatu hari, Dewi Drupadi ingin mandi di sendang tersebut, maka berangkatlah Drupadi ke sendang tersebut itu, Drupadi segera melepas pakaian untuk mandi, Bima terkejut menyaksikan kecantikan Drupadi Dalam kondisi telanjang bulat tersbut. mendadak ia merasa ingin kencing, maka dengan membelakangi Dewi Drupadi ia kencing. Dewi Drupadi tahu tahu perbuatan werkudoro tersebut,kemudian bertanya:
“Hai Kanda, mengapa Kanda membalikan badanmu?” Sambil kencing Bima menjawab ” maaf, setelah saya melihat dinda melepas pakaian, saya terpesona, ternyata adinda adalah seorang putri yang cantik jelita tiada tara, Siro Ayu ( kamu cantik ) Dewi Drupadi tersipu2 mendengar sanjungan Bima tersebut. akibatnya air kencing Bima tersebut menjadi tumpah. terjadilah kali serayu, diambil dari kata sira ayu, sedang sendang tersebut tuk Bima lukar. Hingga kini Sungai Serayu Mengalir dari Wonosobo sebagai sungai Pujaan Bapak Tani Membelah Bnjarnegara menuju Banyumas dan berakhir di pantai Teluk Penyu Cilacap
menurut cerita apabila orang mandi atau cuci muka di sendang bima lukar akan menjadi awet muda –

sutera-58Cerita lain juga mengatakan:

Kata Serayu konon berasal dari kata Soroh (menyerahkan) dan Hayu (hidup), yang berarti totalitas penyerahan hidup manusia Banyumas terhadap alam semesta. Ini merupakan wujud pemahaman kosmologi masyarakat tradisional di wilayah ini, bahwa kehidupan manusia di dunia menjadi bagian tak terpisahkan dari alam semesta. Alam memiliki kekuatan yang teramat dahsyat, yang mampu memberikan pengaruh apapun terhadap kehidupan manusia, baik positif maupun negatif. Oleh karena itu, dalam usaha menjaga kontinuitas kehidupan dunia, manusia wajib secara total menyerahkan diri sebagai bagian integral perjalanan alam semesta.

Pada masa penyebaran agama Hindu, sungai Serayu digambagkan sebagai analogi dari sungai Gangga di India. Di wilayah Banyumas terdapat legenda bahwa sungai Serayu dibuat oleh Bima hanya dengan menggunakan penisnya. Sumber mata air sungai ini di pegunungan Diang bernama Tuk Bima Lukar. Menurut legenda yang berkembang, pembuatan sungai Serayu dilakukan merupakan acara lomba dengan para Korawa yang berjumlah 100 orang, dipimpin oleh Pendhita Drona. Bima membuat sungai Serayu, sementara Korawa membuat sungai Klawing.

Sesampainya di suatu tempat, Bima didampingi oleh punakawan menggelar tikar untuk istirahat makan. Namun belum sempat memakan bekal yang sudah disiapkan terdengar sorak-sorai Korawa yang merasa yakin akan memenangkan lomba itu. Akhirnya Bima batal istirahat. Tempat untuk menggelar tikar selanjutnya disebut kampung “Gelaran”. Bima memandang (Jawa: nyawang) ke arah selatan dan tampak (Jawa: katon) para Korawa sedang berpesta merayakan kemenangan mereka. Tempat untuk memandang (nyawang) selanjutnya disebut kampung “Sawangan” dan tempat para Korawa tampak sedang berpesta disebut “Somakaton” (berasal dari kata para “Kusuma wus katon”). Ketiga tempat ini terdapat di wilayah Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas.

Khawatir mengalami kekalahan, maka Bima segera mempercepat kerjanya, dan akhirnya memenangkan perlombaan. Kekalahan Korawa menempatkan Pandhita Drona sebagai korban. Pandhita dari Sokalima itu dihukum dengan cara dipotong penisnya dan dibuang di tepian sungai Klawing. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Panembahan Drona, bertempat di Desa Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga. Di tempat itu masih tersimpan sebuah lingga yang konon penjelmaan dari penis Pandhita Drona.

Di luar legenda yang berkembang tersebut di atas, dapat diperoleh gambaran bahwa keberadaan sungai serayu sangat terkait dengan pamah tentang kesuburan. Sungai dan atau air identik dengan kesuburan. Paham demikian selaras dengan cerita lain tentang air, seperti banyu prewita urip, air kehidupan dan lain-lain. Di sisi lain, alat kelamin pun lazim dikaitkan dengan paham tentang kesuburan seperti halnya artefak-artefak masa klasik (Hindu-Budha) ditemukan lingga dan yoni yang juga dipahami terkait dengan upacara kesuburan.

Pada era sekarang ini, sungai Serayu marupakan salah satu dari dua ikon penting kepariwisataan Banyumas, yaitu gunung Samet dan sungai Serayu. Dengan dua ikon penting inilah, Kabupaten Banyumas tengah menggencarkan usaha mewujudkan menjadi salah satu daerah tujuan wisata di Jawa Tengah.

About Rachel

I am who I am

Posted on September 9, 2011, in Folktales, History/Sejarah, Indonesia, Jawa, Jawa Tengah, Mahabharata and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: