Kisah sedih Sang Karna dan Dewi Kunti

Radheya(Karna) dan Kunti (nama lain Sang Karna adalah Radheya)

Kisah ini diambil dari Udyoga parva, setelah Sri Khrisna gagal sebagai Duta Perdamaian guna mencegah perang Pandava dengan Kurawa

Kunti begitu gelisah setelah usaha damai yang ditempuh menemui jalan buntu, berarti perang sebentar lagi akan pecah, pasukan Raja Raja di seluruh dunia telah menuju Kurukhsetra.
Namun yang ada dalam benak Kunti adalah Radheya (Karna), kebencian Radheya terhadap Pandava terutama Arjuna melebihi kebencian Duryodhana terhadap Pandava
Kunti berniat menemui putra tertuanya itu dan memberitahu sejatinya Radheya.
——————————————————————————————————–
Radheya baru saja selesai melakukan Surya Sewana (pemujaan terhadap Dewa Matahari ), telah terkenal bahwa setiap selesai melakukan Puja tersebut Radheya akan memberikan anugerah kepada siapapun yang datang dan meminta kepadanya.

Ditepi sungai Gangga………
Saat berbalik Radheya melihat Seorang wanita duduk berteduh dibawah pohon, diapun menghampiri (karena sesuai kebiasaan bahwa orang yang menunggunya melakukan Puja adalah orang yang akan meminta berkahnya) lalu membungkuk hormat

Radheya (R) : salam Ibu.. apa yang ibu minta? Radheya menunggu perintahmu

Kunti hanya memandangnya dengan tatapan sedih, terkenang kembali ke masa lalu saat dia membuang Radheya begitu lahir dengan menghanyutkannya di sungai Gangga.

R : aku adalah Radheya, Putra Adhirata ibuku bernama Radha karena itu orang memanggilku Radheya, katakanlah Ibu apa Permintaanmu ?

Kunti (K) : aku kesini bukan untuk meminta anugerahmu, aku hanya ingin bertanya tidakkah kau mengenal siapa aku ?

Radheya menatap wanita didepannya, mencoba mengingat ingat lalu sesuatu pun terlintas dalam pikirannya …………….dadanya pun berdebar

R : ini aneh, aku tidak tahu siapa dirimu, tapi aku merasa telah lama mengenalmu……………… ya engkau adalah wanita yang hadir dalam mimpiku

K : Maukah kau duduk disampingku, dan menceritakan wanita impianmu ?

Radheya mendekat dan duduk disamping Kunti

R : ini aneh, selama ini aku tidak pernah menceritakan tentang mimpiku ini kepada siapapun bahkan kepada ibuku Radha, tapi kenapa sekarang aku ingin menceritakan kepadamu Ibu.
Mungkin kau sudah tau siapa aku mungkin juga tidak, aku adalah Radheya putra Radha, ayahku Adhirata kusir sang Raja, tapi aku bukanlah anak Ibuku…….. ayahku memungut aku dari Gangga dalam kotak kayu waktu aku kecil.
Semasa kecil aku selalu bermimpi, seorang wanita cantik yang berpakaian layaknya Putri Raja datang padaku, dia selalu menangis dan sedih
Dalam mimpi aku bertanya “ siapa engkau Ibu? Mengapa kau menangis?”
Wanita itu selalu menjawab ” aku menangis dan sedih karena aku melakukan ketidakadilan ini padamu”
Ketika aku bertanya ” mengapa Ibu, mengapa kau lakukan ini padaku ?
Dia hanya diam membisu hanya air mata yang menjawab semua pertanyaanku, lalu wanita itu akan menghilang dari pandanganku seberapa keras pun aku memanggilnya….
Mimpi yang sama selalu terulang berkali2.
Mimpi itu terus menghantuiku sampai aku remaja mimpi itu mulai berkurang, wanita itu semakin jarang menemuiku dalam mimpi, dan sampai sekarang dia tak pernah lagi menemui aku dalam mimpi ……………. yah mungkin karena dia mulai lupa denganku atau dia sudah punya anak yang lain

K : kau salah anakku , wanita itu tidak pernah dan tidak akan bisa melupakanmu, meski dia sudah punya anak yang lain

R : mengapa kau begitu yakin Ibu, seolah olah kau tau dan mengenal wanita dalam mimpiku ?

Dada Radheya semakin berdebar2, semakin lama dia memandang wanita itu dia semakin yakin kalau wanita dihadapannya adalah wanita yang hadir dalam mimpi2nya
Kunti pun menangis, dengan tersendat dia berkata

K : Aku tau siapa wanita dalam mimpimu, karena akulah wanita itu aku adalah Kunti wanita yang melahirkanmu………

Kunti mencurahkan air matanya, perasaan yang dipendam selama puluhan Tahun seakan ingin dia tumpahkan semua saat ini
Radheya diam mematung, tak percaya dengan apa yang dia dengar

R : ah mana mungkin………. Kunti Devi Ratu Astina, ibu mulia dari lima Pahlawan Agung hari ini datang pada Radheya, dan mengaku sebagai Ibunya……… mungkin Radheya sedang bermimpi, sebaiknya aku tidur lagi

K : jangan lagi memanggil dirimu Radheya kau adalah Kaunteya putra Kunti, putra tertua ku…………… mulai saat ini kau akan dikenal sebagai Putraku

R : Tapi mengapa Ibu……….?? aku sudah tau bahwa kau adalah ibuku……bahwa Radheya sebenarnya Putra Kunti dan Surya (Dewa Matahari ), tapi mengapa baru sekarang kau datang padaku

K : Bagaimana kau tau aku adalah ibumu dan Surya adalah ayahmu ?

R : Kemarin Khrisna dengan rasa cinta kasihnya memberitahuku jati diriku yang sebenarnya, tapi sudahlah Ibu janganlah kita membicarakan hal yang berlalu, hari ini aku begitu bahagia karena Ibu telah datang menemui aku……… jadi jangan berkata apa pa lagi

Keduanya berpelukan dan menangis bersama, melepas kerinduan mereka selama ini, Radheya merebahkan kepalanya di pangkuan Kunti, dengan lembut Kunti membelai rambut putranya yang ”Hilang”, mereka larut untuk sesaat dalam hening…………
Beberapa saat berlalu, Radheya pun bangkit

R : Terima kasih Ibu, Ibu telah memberikan saat-saat yang paling suci dalam hidupku kini perintahlah Radheya

K : Tidak anakku, Ibu tidak memberimu perintah tapi Ibu akan memintamu melakukan sesuatu.

R : Katakanlah Ibu apa yang harus aku lakukan

K : Ikutlah bersama Ibu ke Pandava, mereka adalah saudaramu, Ibu akan memberi tau Yudhistira bahwa kau adalah Putra tertua ku, hilangkan kebencianmu selama ini kepada Arjuna, berperanglah di pihak Pandawa yang pasti akan menang, Dunia akan melihat engkau bersatu kembali dengan saudara saudaramu, mereka akan melihat dirimu bersatu dengan Arjuna, didunia ini siapa yang bisa mengalahkan Kalian berdua, kalian akan Jaya seperti Khrisna – Balarama, menangkan perang ini lalu perintahlah seluruh dunia karena kau lah Pewaris Tahta Kerajaan. Yudhisthira akan menjadi Yuvaraja (Putra mahkota) dan memegang Payung kebesaranmu, Arjuna akan menjadi kusirmu, Bhima akan menjadi kepala Pengawal, sedangkan si kembar akan selalu setia melayanimu………….

Radheya terdiam, betapa Hidup ini penuh misteri, selama ini dia hidup dengan pandangan orang yang menilai rendah dirinya karena hanya seorang ”Sutaputra” (putra kusir kereta), namun dalam 2 hari terakhir dua orang mulia (Khrisna dan Kunti) datang menawarkan Dunia kepadanya. Godaan yang begitu besar, namun Radheya tak bergeming

R : Ibu aku sangat ingin menuruti perintahmu, tapi aku tidak bisa

K : mengapa anakku? Aku akan mengakui pada dunia bahwa kau adalah putra tertua ku…….

R : Ibu tidakkah kau tau betapa aku membencimu, atas perlakuanmu padamu…. aku menyimpan kemarahan ini bertahun tahun. Aku menderita karena kelahiranku. Namun ketika hari ini kau datang semua kemarahanku itu lenyap bagai butiran salju yang jatuh di gurun pasir yang tandus
Dunia mengenalku sebagai Sutaputra, nama ini menodai kelahiranku yang sebenarnya, saat menginjak remaja kau bertanya pada Ibuku Radha ” Ibu mengapa aku ingin sekali menjadi seorang pemanah bukan menjadi kusir kereta seperti ayah ?”
Saat itu lah aku tau bahwa Ibuku Radha bukanlah ibuku, namun cinta kasihnya melebihi cinta kasih seorang ibu kepadaku……….. karena itu aku bangga dengan nama Radheya nama yang aku bawa sampai mati
Lalu aku pun berkelana, untuk menuntut ilmu memanah, namun tidak ada yang mau mengajariku
Drona menolakku karena aku adalah seorang ’Sutaputra’, nama yang melekat dan menyakiti hatiku ini semua karena ketidakadilan mu padaku ”
Kemudian aku menghadap Bhargawa (Parasurama ) beliau mau mengajariku karena aku mengaku sebagai Brahmana, tetapi ketika Beliau tau aku bukan seorang Brahmana beliau mengutukku bahwa aku akan melupakan Mantra yang sangat aku perlukan.
Disamping itu seorang Brahmana mengutukku bahwa roda keretaku akan terbenam dan aku terbunuh pada saat aku tidak siap, seperti hal nya sapi Brahmana itu yang aku bunuh.
Saat aku kembali ke Astina, saat itu adalah waktu Perlombaan ketangkasan Para Pangeran Astina.
Jiwa Pemanahku bergolak melihat kesombongan Arjuna yang bangga akan keahliannya, akupun menantangnya lalu semua orang tau bahwa aku hanyalah seorang putra kusir, mereka menghina dan mencemoohkan aku terutama Bhima mu yang tersayang, mereka menilai aku bukan lah lawan yang pantas bagi Arjuna.
Saat itu lah Duryodhana yang Agung datang padaku, mengakui aku sebagai sahabatnya dan mengangkatku sebagai Raja Anga, Duryodhana lah orang yang mengangkat derajatku saat semua orang merendahkan ku, dia hanya meminta Hati ku sebagai balasanya, dan Mulai saat itu Hati ku milik sang Raja, Majikan sekaligus sahabatku Pangeran Duryodhana.
Ibu Tidakkah kau mengenalku saat itu ? aku yakin kau pasti mengenalku dari Kavaca ( Baju Pelindung ) dan kundala (anting-anting) yang kukenakan, namun dengan alasan yang kau ketahui sendiri saat itu Ibu diam membisu
Namun mengapa sekarang kau datang padaku………….????
Di Dunia ini hanya ada dua cinta terpenting bagi Radheya, cintaku kepada Ibu ku Radha dan Cintaku kepada Sahabat sejatiku Duryodhana.
Aku tidak pernah dan tidak berani berpikir akan ada cinta yang lebih agung datang dalam kehidupanku.
Aku tidak bisa meninggalkan Duryodhana untuk bergabung dengan saudara saudaraku yang baru aku temukan sesuai dengan permintaanmu ibu”

Dengan berlinang airmata Kunti bertanya

K : Mengapa anakku……….???

Terdengar suara dari langit, Surya Dewa Matahari berkata ” Anakku Turutilah kemauan Ibumu, bergabunglah dengan Pandawa ”
Namun Radheya tidak bergeming

R : Ibu ,Aku terikat jalinan jutaan untai benang dengan Sahabatku Duryodhana, satu satunya orang di dunia ini yang menjadikan aku sahabatnya tanpa peduli aku seorang Sutaputra, bergantung padaku Dia telah memulai perang ini, dunia mengenalku sebagai sahabat sang Raja, Duryodhana malah ingin berbagi Singasana yang sama denganku, aku tidak bisa memungkiri kebahagiaanku melewati hari hari bersama sang Pangeran.
Namun kini Ibu datang padaku dengan cinta yang membuat temaram cinta yang aku tau selama ini
Aku akan tetap berada disamping Duryodhana untuk melunasi hutangku, hutang cinta dan terima kasih adalah hutang yang sangat sulit untuk dibayar
Katakanlah ibu , begitu agungkah cinta seorang Ibu hingga membuat aku begitu bimbang, tapi Radheya tidak akan merubah pendiriannya , sekarang janganlah berkata2 apa apa lagi aku tidak ingin menyakitimu dengan kata kataku ”

Radheya menutup kedua matanya dan menangis, Kunti tertunduk lemas air matanya bercucuran tak terhingga, mereka kembali berpelukan dalam tangis.

Sesaat kemudian Radheya melepaskan pelukannya

R : Ibu tangisan ini tidak baik untukku, seorang Ibu hanya boleh menangisi anaknya yang sudah mati, aku akan tetap bersama sahabatku dan aku tau akhir hidupku
Aku tau bahwa kami semua yang berpihak pada Duryodhana akan dikirim ke alam Yama (kematian) kami akan kalah, aku tau itu Ibu
Namun jalan satu satunya orang hidup didunia ini adalah mengukir nama Baiknya, kemasyuran……….. jika aku bergabung dengan Pandawa aku akan kehilangan nama baik yang telah aku ukir selama ini, apapun Takdir yang telah ditetapkan, seseorang tidak boleh menyerah untuk mempertahankan dan mencari Nama Baik dan kemahsyuran, itulah jalan yang aku tempuh selama ini, aku menginginkan nama baik.
Ibu Restuilah aku berikan aku anugerah :
”Bahwa namaku akan di ingat sepanjang manusia masih hidup di dunia ini, kemahsyuran ku akan abadi sepanjang sejarah”

Dengan Hati yang hancur lebur Kunti merestui permintaan putranya

R : Terimakasih ibu, namun ini tidaklah benar……….. biasanya akulah yang memberikan anugerah kepada orang2 yang datang padaku setelah aku selesai memuja Ayahku, kini aku akan memberimu anugerah yang setara dengan Permintaanmu sesuai dengan kemampuanku, engkau menginginkan hatiku, tapi hatiku bukan miliku, hatiku milik sahabatku Duryodhana
” Engkau akan Tetap memiliki lima Putera, Yudhistira, Bhima,Nakula dan Sahadeva Tidak akan aku bunuh dalam perang, mereka tidak akan mati ditanganku, tapi tidak dengan Arjuna, pertarungan diantara kami harus terjadinya………. itulah satu satunya cara untuk melunasi hutang kepada sahabatku Duryodhana, namun bagaimana pun hasilnya kau akan tetap punya lima Putera, dengan Aku tanpa Arjuna, ataupun Dengan Arjuna tanpa Radheya puteramu Tetap akan lima, itulah anugerahku ”

Radheya menghela nafas panjang, dengan tatapan sedih Kunti memandangnya

R : Tapi ibu aku tahu, Arjuna akan tetap bersamamu, dibawah lindungan Khrisna Pandawa akan aman seperti Bayi dalam rahim ibunya, mereka akan selamat melewati Perang besar ini
Sedangkan kami yang memihak Duryodhana sudah dikutuk, kami akan mati…………
Engkau mungkin sudah tau Ibu….
Aku juga telah dikutuk
Guruku Bhargawa (Parasurama) telah mengutukku ” bahwa aku kan melupakan mantra senjata yang aku perlukan disaat saat genting.
Lalu seorang Brahmana mengutukku, bahwa roda kereta ku akan ditelan Bumi dan aku dibunuh oleh musuh saat aku tidak siap.
Selain dua kutukan tadi Indra Raja Dewata telah meminta Kavaca ( Baju pelindung) dan Kundala (anting2) yang akan melindungi aku dari kematian.
Dan kemarin Khrisna datang dengan cinta yang Agung menggoyahkan perisai hatiku dan hari ini kau datang dengan kasih seorang Ibu yang kau hempaskan dan menghancurkan Tameng Hatiku, satu satunya senjata ku untuk melawan Pandawa adalah kebencianku kini semuanya telah hancur, bagaimana aku bisa berhadapan dengan Arjuna yang kini dimataku adalah seorang anak kecil yang mengulurkan tangannya dengan penuh cinta.
Ibu katakanlah
Dengan semua itu bagaimana aku bisa selamat dari perang ???

Kini mata Radheya terang tanpa airmata, dengan suara pelan meyakinkan Kunti

R : Ibu janganlah sedih, apa yang sudah digariskan oleh Para Dewa tidak ada yang bisa merubahnya, tidak juga Cintamu yang Agung, aku harus bertarung dengan Arjuna dan aku akan mati ditangannya
Sekarang pulanglah Ibu ku sayang, jangan sampai ada orang yang melihat kau datang menemui aku, biarlah dunia tetap menganggapku ”Sutaputra” tapi dirimu dan aku tahu bahwa Radheya adalah putera Kunti dan Surya, biarlah rahasia kelahiranku lenyap bersama kematianku ”

Tubuh Kunti begitu lemas, Radheya berkali kali harus memapahnya, Dia telah kehilangan puteranya selama ini dan setelah menemui Radheya dia semakin kehilangan, Pertemuan mereka hanyalah kebahagiaan sesaat seperti sinar kilat menyambar lalu lenyap saat Dunia masih gelap. Kunti dengan segala kegetiran meninggalkan Puteranya yang Mulia…………..

About Rachel

I am who I am

Posted on September 29, 2011, in Mahabharata, Wayang. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: